Writer's Block
[Cast]
Yoo Jae In (OC) | Kim Joon Myeon a.k.a Suho
[Rating]
PG-14
[Genre]
Romance |
Fluff
[Lenght]
Ficlet
[Dislaimer]
PLEASE DO NOT COPY PASTE THIS FF. DO NOT
CLAIM THIS FF/ COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE YOUR COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE
ARE SOME TYPOS. Gamsahamnida^^
“Agassi, Agassi,” seseorang menepuk pundak Jae
In pelan.
Jae In membuka matanya. Dia mendapati dirinya
masih ditempat yang sama: bus. Dan hujan masih mengguyur dengan derasnya
diluar. Bedanya, kali ini sudah malam. Jae In mengecek jam tangannya. Sudah jam
8 malam.
“Rumahmu dimana? Maaf ikut campur, aku hanya
ingin memastikan kalau tujuanmu tidak terlewat.” Dia pria yang sering Jae In
lihat.
“Aku turun saja disini,” katanya berdiri dari
tempat duduk. Tangan kanannya menggenggam barang disebelahnya yang lalu
dimasukkan kedalam tas. Sang pria mendahului Jae In. Sepertinya dia juga ingin
turun disini.
Jae In menyalip sang pria. Dia terlihat
buru-buru. Entah ini sudah halte keberapa yang dilewatinya semenjak bus meninggalkan
halte awal. Alih-alih mencari ilham,
namun tidur yang dia dapatkan. Gagal sudah.
Jae In melangkahkan kaki kanannya pada anak
tangga kedua pintu keluar bus. Pada saat yang bersamaan sebuah kaki bersepatu
hitam memijaki anak tangga pertama. Jae In mendongak keatas, melihat siapa
orang itu.
Deg. Hatinya tiba-tiba sesak. Langkahnya terhenti.
Dia sudah menggandeng wanita lain. Sepasang mata orang yang dihadapannya itu
melebar. Pria itu tersentak melihat Jae In. Mata Jae In mulai panas. Air mata
menetes dari matanya.
Jae In segera melangkahkan kaki keluar. Pria
yang berada dihadapannya disenggolnya dengan kasar. Pria itu hanya melihat Jae
In pergi. Rinai hujan yang deras seolah menggambarkan perasaan Jae In sekarang.
Jae In duduk dihalte bus dan menangis terisak.
Brengsek. Begitulah kiranya gambaran Jae In
mengenai kekasihnya. Ini bagaikan mimpi buruk. Masa bodo dengan tulisan, Jae In
perlu merapikan moodnya kali ini. Apa karena terlalu sibuk dengan tulisannya
sehingga kekasihnya mencari yang lain?
Jae In menaikkan kakinya keatas bangku. Dia
melipat kakinya. Bulu roma Jae In berdiri. Dingin, dan hujan masih deras
mengguyur. Sekarang dia sudah tidak tahu berada dimana. Perasaan yang kacau
balau, hari sudah gelap, dan hujan masih mengguyur deras lengkap sudah. Jae In
tidak tahu dia bisa pulang kapan.
“Hangatkanlah dengan ini.” Sebuah cup minuman
yang masih hangat disodorkan kepada Jae In. Jae In mengambil cup minuman
tersebut dan mengucapkan terimakasih. Masih pria yang tadi di bus. Jae In tidak
terlalu memerdulikan siapa dia. Pikirannya masih kacau.
“Apakah kau tidak pulang? Dimana rumahmu?”
tanyanya.
“Aku akan pulang sebentar lagi.”
“Bukannya aku ingin mencampuri urusanmu, tapi
sebaiknya kamu pulang ke rumah bila suasana hatimu seperti ini.”
Jae In tak bergeming. Hatinya masih pilu. Dia
memandang kosong kearah hujan. Kini hujan terlihat bagaikan hujan batu yang
menghujami hatinya bertubi-tubi. Jae In menghela napas panjang. Dirinya masih
mengeluarkan air mata.
Ah, sudahlah. Jae In berdiri dari tempat
duduknya. Dia memanggil taxi lalu pergi meninggalkan pria tadi sendirian
dihalte. Pria itu melihat taxi membawa Jae In pergi menjauh darinya.
Sekarang pria yang bernama Joon Myeon itu
duduk sendiri dihalte. Dia menyesap kopi hangatnya pelan. Joon Myeon memandangi
hujan yang masih turun dengan derasnya. Sekarang, kapan kau akan pulang, Joon
Myeon?
.
.
.
Jae In bangun dengan matanya yang sembab. Dia
menangisi kenyataan yang terjadi semalaman. Matanya yang sipit sekarang hampir
seperti garis diwajahnya. Jae In kembali menutup matanya. Dia ingin kembali
tidur melupakan kesakitan hatinya.
“Kyaa!” Jae In memukul-mukul tempat tidurnya.
Percuma, dia tidak bisa tidur. Jae In menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Jae In tertawa kecil melihat refleksi dirinya yang kian sipit saja.
Ulu hatinya meringis. Perutnya kembung.
Semalam dia hanya meminum kopi dan tertidur ketika malam telah begitu larut.
Lebih tepatnya, mendekati pagi hari. Mau makan apa pagi ini? Jae In tak
berselera makan.
Jae In duduk dikursi meja kerjanya. Dia
membuka laptopnya sambil meminum air putih yang diambilnya. Ada email baru dari
redaktur.
Jangan lupa
deadlinemu lusa.
Jae In menghela napas. Dia sedang tidak mood
untuk menulis hari ini dan mungkin beberapa hari kedepan. Atau selamanya.
Entahlah, Jae In belum bisa memastikan kapan dia akan kembali menulis.
Jae In mengalihkan perhatian dengan memutar
bola matanya mengelilingi barang yang ada didepannya. Sebuah dompet? Jae In
memeriksa barang asing tersebut. Bukan miliknya, milik pria yang bernama Joon
Myeon.
Jae In menelepon Joon Myeon berdasarkan nomor
yang didapatkannya didompet. Mereka sepakat akan bertemu pada siang ini di
halte bus didekat rumah Jae In. Siang ini bukanlah waktu yang lama. Sebab Jae
In bangun ketika matahari sudah naik sempurna. Dirinya pun segera bersiap untuk
menemui Joon Myeon.
“Terimakasih,” kata Joon Myeon ketika Jae In
mengembalikan dompetnya.
“Aku yang bersalah,” katanya.
“Tidakkah kau menemukan inspirasi untuk
menulis dari penglamanmu?” tanya Joon Myeon.
Jae In kaget. Dia agak tersinggung. “Entahlah.
Deadline sudah semakin dekat dan aku belum menemukan ilham,” jawabnya akhirnya.
“Apakah—Oh! Ketua redaksi!” Jae In tiba-tiba memberi hormat pada Joon Myeon.
Joon Myeon tertawa kecil. “Aku paham atas kejadian
semalam. Maaf, aku tidak sengaja mencampuri urusanmu.”
“Bukan apa-apa. Aku tak sadar kalau semalam
itu adalah ketua.”
Akhir-akhir ini, Jae In sering sekali
bertemu dengan Joon Myeon walau hanya sekedar lewat dan saling sapa belaka.
Baru beberapa hari terakhir Jae In mengetahui kalau Joon Myeon adalah ketua
redaksi.
“Apa kau mau aku bawa menuju tempat
yang mungkin bisa memberimu inspirasi?” tawar Joon Myeon.
Jae In terdiam beberapa saat.
“Mungkin bisa dicoba,” putus Jae In pada akhirnya.
Joon Myeon pun membawa Jae In dengan
bus. Satu halte, dua halte, tiga halte dan Joon Myeon belum berbicara apapun.
Dia hanya meminta Jae In memperhatikan sekitar. Perjalanan macam apa ini?
“Ketua, bukankah ini sudah terlalu
jauh?”
“Dua halte lagi.”
Jae In dan Joon Myeon sampai di halte
terakhir ketika hari sudah sore. Jae In memperhatikan sekitar dengan seksama.
Ini halte yang sama seperti semalam. Halte dimana dia menangisi kejadian
memilukan.
“Kau sudah mendapatkan inspirasi?”
tanya Joon Myeon. Nampaknya dia menyinggung Jae In atas kejadian semalam.
Jae In tersinggung. “Tolong jangan
ungkit soal kemarin.”
Joon Myeon hanya diam. Dia merasa tak
enak. Joon Myeon akhirnya membawa Jae In menuju taman terdekat untuk
memperbaiki suasana. Taman terlihat kuning berbaur coklat. Para pohon
mengugurkan daunnya. Dan kini yang tersisa hanya batang dan dahan yang gundul.
“Tak apa, daun tersebut akan
digantikan dengan yang lebih indah. Sudah waktunya untung mengganti kepergian
mereka,” gumam Joon Myeon. Dirinya seperti berbicara pada diri sendiri.
Jae In memandangi Joon Myeon. Sekali
lagi Joon Myeon membuatnya tersinggung. Angin musim gugur yang bertiup, membuat
rambutnya melambai. Dingin, namun kenapa kali ini angin terasa lebih hangat
bagi Jae In? Jae In mengalihkan perhatiannya pada daun-daun yang berguguran.
Angin musim gugur lagi-lagi bertiup.
Kali ini lebih kencang. Daun-daun dibawanya terbang. Ada sehelai yang ia
daratkan pada rambut Jae In. Joon Myeon mengeluarkan tangan kanannya dari saku
dan berusaha menyingkirkan daun tersebut seraya begumam, “ada yang lebih indah,
dari pada daun yang sudah kering.”
Sudah kesekian kalinya Jae In merasa
tersinggung. Jae In yang sedang memperhatikan daun kering itu berbalik pada Joon
Myeon. Keduanya kaget. Mata mereka saling bertautan. Sekian detik kemudian,
mereka berdua saling menjauhkan diri. Canggung mendominasi mereka berdua.
“Aku rasa, aku harus pulang,” kata Jae
In tiba-tiba. “Terimakasih atas jalan-jalannya yang menginspirasi.”
“Ah.. nde. Hati-hati.”
Joon Myeon melihat Jae In melangkah
pergi hingga dia hilang ditelan jarak pandang yang terbatas. Kini Joon Myeon
melangkahkan kaki menuju arah yang tak tentu.
.
.
.
Besok tepatnya Jae In harus
mengumpulkan cerpennya pada redaksi majalah. Gadis itu sedang duduk didepan
laptop memandangi tetikusnya yang berkedap-kedip semenjak dua setengah jam yang
lalu. Kanvas cerpennya masih putih bersih.
Tak ada ilham. Dia masih terkena
writer block. Kalau seperti ini, Jae In tak yakin bisa mengumpulkan cerpennya
besok. Dia harus bersiap kehilangan kepercayaan dari redaksi. Ponsel Jae In
tiba-tiba berbunyi membuatnya mengalihkan perhatian dari laptop. Ada pesan.
Kau sudah
menemukan inspirasi ceritamu?
Dari Joon Myeon. Jae In membacanya
dengan tatapan bosan. Dia membiarkan sms dari Joon Myeon begitu saja. Tak ada
niat sama sekali untuk membalas pesan Joon Myeon. Jae In memeluk kakinya yang
ia lipat. Dagunya bertopang pada lututnya. Dipandanginya dengan kosong pesan
dari Joon Myeon.
Kau sudah menemukan inspirasi ceritamu? Tanpa sebab, pesan dari Joon Myeon membuatnya
tertarik. Jae In seperti mendapat pencerahan dari para dewa. Dia mendapat
ilham. Didekatkan dirinya pada laptop sebagai persiapan untuk menulis.
Begitu tangannya menyentuh
keyboard—BLANK. Tiba-tiba hilang. Inspirasinya seolah menguap begitu saja.
Bagaikan cat yang luntur terkena air. Jae In merasa ada yang kurang dari
idenya. Tapi apa?
.
.
.
Paling lambat sore ini cerpen sudah
dikumpulkan. Namun hingga hari sudah mulai menjelang siang, kanvasnya masih
kosong. Mungkin Jae In akan mengumpulkan kertas kosong pada redaksi.
Jae In melihat kembali sms Joon Myeon
kemarin. Jae In seperti mendapat inspirasi dengan sms Joon Myeon, tapi entah
itu apa. Ini mungkin sama seperti kamu mengetahui sesuatu tapi kamu lupa
namanya.
“Oh, ayolah,” keluh Jae In. Dari tadi
pagi dia masih didepan laptop. Jae In mengambil ponselnya. Gadis itu hendak memberitahukan
redaksi kalau dia tidak bisa mengumpulkan cerpennya untuk majalah edisi kali
ini. Jae In sudah putus asa.
Titit~~ Ponselnya
bergetar. Ada sms yang masuk.
Apa kamu
sudah menyelesaikan ceritamu?
Masih dari Joon Myeon. Lalu ponselnya bergetar lagi.
Aku didepan
rumahmu. Keluarlah.
Jae In tercengang. Mau apa ketua
redaksi datang ke rumahnya? Mau tak mau dia harus menyambutnya. Jae In
membukakan pintu. Joon Myeon sudah ada didepan lalu Jae In mempersilahkannya masuk.
“Apa kau sudah menyelesaikan
ceritamu?” tanya Joon Myeon.
“Nde?!” kata Jae In. “Be.. belum. Aku
belum mendapatkan inspirasi. Sewaktu aku melihat pesan dari ketua, aku seperti
mendapatkan ide, tapi aku tak tahu itu apa. Seperti… susah dijelaskan.”
Joon Myeon tersenyum. “Bagaimana
dengan jalan-jalan kemarin?”
“Tak ada satu pun inspirasi yang
hinggap dikepalaku. Aku tidak tahu harus menaruh apa sebagai ceritaku.”
“Kau menulis cerita cinta bukan?”
“Nde.”
“Bagaimana kalau kau jadikan aku sebagai bagian dari cerita cintamu?”
Jae In tercengang. Dia melihat Joon
Myeon lekat-lekat. Joon Myeon hanya mengangkat keningnya menunggu jawaban. Jae
In terdiam sejenak lalu memeluk Joon Myeon sebagai tanda kebahagiaan.
Jae In bahagia mendapatkan ide.
Sekarang dia bisa menulis lalu mengumpulkan ceritanya pada redaksi. Jae In
melepaskan pelukannya dari Joon Myeon lalu beralih pada meja kerjanya.
“Bagaimana dengan kehidupan nyata? Maukah kau jadikan aku sebagai bagian dari
cerita cintamu?”
Jae In kaget. “Ne.. nde?!”
Ayolah Jae In, masih ada yang lebih
indah daripada daun yang telah gugur.
THE
END
-------------------------------------------------------
Gimana FF-nya? JANGAN JADI SR (SILENT READER) YA PLIS. Aku perlu komentar kalian biar tulisanku lebih baik lagi kedepannya. FF ini sebagai pelapiasan Writer Block yang waktu itu aku alamin :3 Makasih yang udah baca, lebih makasih lagi yang udah comment :3 #maksa ._.v

Good FF. Tpi kok, rsanya kyk critanya gantung, yah?
BalasHapusAtau hanya pikiranku aja?
Semangat nulisnya!
FF Goodbye ditunggu klanjutannya...