08 Oktober 2014

[FF] Writer's Block

Writer's Block

[Cast]
Yoo Jae In (OC) | Kim Joon Myeon a.k.a Suho
 [Rating]
PG-14
[Genre]
Romance | Fluff
[Lenght]
Ficlet
 [Dislaimer]
PLEASE DO NOT COPY PASTE THIS FF. DO NOT CLAIM THIS FF/ COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE YOUR COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE ARE SOME TYPOS. Gamsahamnida^^


“Agassi, Agassi,” seseorang menepuk pundak Jae In pelan.
Jae In membuka matanya. Dia mendapati dirinya masih ditempat yang sama: bus. Dan hujan masih mengguyur dengan derasnya diluar. Bedanya, kali ini sudah malam. Jae In mengecek jam tangannya. Sudah jam 8 malam.
“Rumahmu dimana? Maaf ikut campur, aku hanya ingin memastikan kalau tujuanmu tidak terlewat.” Dia pria yang sering Jae In lihat.
“Aku turun saja disini,” katanya berdiri dari tempat duduk. Tangan kanannya menggenggam barang disebelahnya yang lalu dimasukkan kedalam tas. Sang pria mendahului Jae In. Sepertinya dia juga ingin turun disini.
Jae In menyalip sang pria. Dia terlihat buru-buru. Entah ini sudah halte keberapa yang dilewatinya semenjak bus meninggalkan halte awal. Alih-alih  mencari ilham, namun tidur yang dia dapatkan. Gagal sudah.
Jae In melangkahkan kaki kanannya pada anak tangga kedua pintu keluar bus. Pada saat yang bersamaan sebuah kaki bersepatu hitam memijaki anak tangga pertama. Jae In mendongak keatas, melihat siapa orang itu.
Deg. Hatinya tiba-tiba sesak. Langkahnya terhenti. Dia sudah menggandeng wanita lain. Sepasang mata orang yang dihadapannya itu melebar. Pria itu tersentak melihat Jae In. Mata Jae In mulai panas. Air mata menetes dari matanya.
Jae In segera melangkahkan kaki keluar. Pria yang berada dihadapannya disenggolnya dengan kasar. Pria itu hanya melihat Jae In pergi. Rinai hujan yang deras seolah menggambarkan perasaan Jae In sekarang. Jae In duduk dihalte bus dan menangis terisak.
Brengsek. Begitulah kiranya gambaran Jae In mengenai kekasihnya. Ini bagaikan mimpi buruk. Masa bodo dengan tulisan, Jae In perlu merapikan moodnya kali ini. Apa karena terlalu sibuk dengan tulisannya sehingga kekasihnya mencari yang lain?
Jae In menaikkan kakinya keatas bangku. Dia melipat kakinya. Bulu roma Jae In berdiri. Dingin, dan hujan masih deras mengguyur. Sekarang dia sudah tidak tahu berada dimana. Perasaan yang kacau balau, hari sudah gelap, dan hujan masih mengguyur deras lengkap sudah. Jae In tidak tahu dia bisa pulang kapan.
“Hangatkanlah dengan ini.” Sebuah cup minuman yang masih hangat disodorkan kepada Jae In. Jae In mengambil cup minuman tersebut dan mengucapkan terimakasih. Masih pria yang tadi di bus. Jae In tidak terlalu memerdulikan siapa dia. Pikirannya masih kacau.
“Apakah kau tidak pulang? Dimana rumahmu?” tanyanya.
“Aku akan pulang sebentar lagi.”
“Bukannya aku ingin mencampuri urusanmu, tapi sebaiknya kamu pulang ke rumah bila suasana hatimu seperti ini.”
Jae In tak bergeming. Hatinya masih pilu. Dia memandang kosong kearah hujan. Kini hujan terlihat bagaikan hujan batu yang menghujami hatinya bertubi-tubi. Jae In menghela napas panjang. Dirinya masih mengeluarkan air mata.
Ah, sudahlah. Jae In berdiri dari tempat duduknya. Dia memanggil taxi lalu pergi meninggalkan pria tadi sendirian dihalte. Pria itu melihat taxi membawa Jae In pergi menjauh darinya.
Sekarang pria yang bernama Joon Myeon itu duduk sendiri dihalte. Dia menyesap kopi hangatnya pelan. Joon Myeon memandangi hujan yang masih turun dengan derasnya. Sekarang, kapan kau akan pulang, Joon Myeon?
.
.
.
Jae In bangun dengan matanya yang sembab. Dia menangisi kenyataan yang terjadi semalaman. Matanya yang sipit sekarang hampir seperti garis diwajahnya. Jae In kembali menutup matanya. Dia ingin kembali tidur melupakan kesakitan hatinya.
“Kyaa!” Jae In memukul-mukul tempat tidurnya. Percuma, dia tidak bisa tidur. Jae In menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Jae In tertawa kecil melihat refleksi dirinya yang kian sipit saja.
Ulu hatinya meringis. Perutnya kembung. Semalam dia hanya meminum kopi dan tertidur ketika malam telah begitu larut. Lebih tepatnya, mendekati pagi hari. Mau makan apa pagi ini? Jae In tak berselera makan.
Jae In duduk dikursi meja kerjanya. Dia membuka laptopnya sambil meminum air putih yang diambilnya. Ada email baru dari redaktur.
Jangan lupa deadlinemu lusa.
Jae In menghela napas. Dia sedang tidak mood untuk menulis hari ini dan mungkin beberapa hari kedepan. Atau selamanya. Entahlah, Jae In belum bisa memastikan kapan dia akan kembali menulis.
Jae In mengalihkan perhatian dengan memutar bola matanya mengelilingi barang yang ada didepannya. Sebuah dompet? Jae In memeriksa barang asing tersebut. Bukan miliknya, milik pria yang bernama Joon Myeon.
Jae In menelepon Joon Myeon berdasarkan nomor yang didapatkannya didompet. Mereka sepakat akan bertemu pada siang ini di halte bus didekat rumah Jae In. Siang ini bukanlah waktu yang lama. Sebab Jae In bangun ketika matahari sudah naik sempurna. Dirinya pun segera bersiap untuk menemui Joon Myeon.
“Terimakasih,” kata Joon Myeon ketika Jae In mengembalikan dompetnya.
“Aku yang bersalah,” katanya.
“Tidakkah kau menemukan inspirasi untuk menulis dari penglamanmu?” tanya Joon Myeon.
Jae In kaget. Dia agak tersinggung. “Entahlah. Deadline sudah semakin dekat dan aku belum menemukan ilham,” jawabnya akhirnya. “Apakah—Oh! Ketua redaksi!” Jae In tiba-tiba memberi hormat pada Joon Myeon.
Joon Myeon tertawa kecil. “Aku paham atas kejadian semalam. Maaf, aku tidak sengaja mencampuri urusanmu.”
“Bukan apa-apa. Aku tak sadar kalau semalam itu adalah ketua.”
Akhir-akhir ini, Jae In sering sekali bertemu dengan Joon Myeon walau hanya sekedar lewat dan saling sapa belaka. Baru beberapa hari terakhir Jae In mengetahui kalau Joon Myeon adalah ketua redaksi.
“Apa kau mau aku bawa menuju tempat yang mungkin bisa memberimu inspirasi?” tawar Joon Myeon.
Jae In terdiam beberapa saat. “Mungkin bisa dicoba,” putus Jae In pada akhirnya.
Joon Myeon pun membawa Jae In dengan bus. Satu halte, dua halte, tiga halte dan Joon Myeon belum berbicara apapun. Dia hanya meminta Jae In memperhatikan sekitar. Perjalanan macam apa ini?
“Ketua, bukankah ini sudah terlalu jauh?”
“Dua halte lagi.”
Jae In dan Joon Myeon sampai di halte terakhir ketika hari sudah sore. Jae In memperhatikan sekitar dengan seksama. Ini halte yang sama seperti semalam. Halte dimana dia menangisi kejadian memilukan.
“Kau sudah mendapatkan inspirasi?” tanya Joon Myeon. Nampaknya dia menyinggung Jae In atas kejadian semalam.
Jae In tersinggung. “Tolong jangan ungkit soal kemarin.”
Joon Myeon hanya diam. Dia merasa tak enak. Joon Myeon akhirnya membawa Jae In menuju taman terdekat untuk memperbaiki suasana. Taman terlihat kuning berbaur coklat. Para pohon mengugurkan daunnya. Dan kini yang tersisa hanya batang dan dahan yang  gundul.
“Tak apa, daun tersebut akan digantikan dengan yang lebih indah. Sudah waktunya untung mengganti kepergian mereka,” gumam Joon Myeon. Dirinya seperti berbicara pada diri sendiri.
Jae In memandangi Joon Myeon. Sekali lagi Joon Myeon membuatnya tersinggung. Angin musim gugur yang bertiup, membuat rambutnya melambai. Dingin, namun kenapa kali ini angin terasa lebih hangat bagi Jae In? Jae In mengalihkan perhatiannya pada daun-daun yang berguguran.
Angin musim gugur lagi-lagi bertiup. Kali ini lebih kencang. Daun-daun dibawanya terbang. Ada sehelai yang ia daratkan pada rambut Jae In. Joon Myeon mengeluarkan tangan kanannya dari saku dan berusaha menyingkirkan daun tersebut seraya begumam, “ada yang lebih indah, dari pada daun yang sudah kering.”
Sudah kesekian kalinya Jae In merasa tersinggung. Jae In yang sedang memperhatikan daun kering itu berbalik pada Joon Myeon. Keduanya kaget. Mata mereka saling bertautan. Sekian detik kemudian, mereka berdua saling menjauhkan diri. Canggung mendominasi mereka berdua.
“Aku rasa, aku harus pulang,” kata Jae In tiba-tiba. “Terimakasih atas jalan-jalannya yang menginspirasi.”
“Ah.. nde. Hati-hati.”
Joon Myeon melihat Jae In melangkah pergi hingga dia hilang ditelan jarak pandang yang terbatas. Kini Joon Myeon melangkahkan kaki menuju arah yang tak tentu.
.
.
.
Besok tepatnya Jae In harus mengumpulkan cerpennya pada redaksi majalah. Gadis itu sedang duduk didepan laptop memandangi tetikusnya yang berkedap-kedip semenjak dua setengah jam yang lalu. Kanvas cerpennya masih putih bersih.
Tak ada ilham. Dia masih terkena writer block. Kalau seperti ini, Jae In tak yakin bisa mengumpulkan cerpennya besok. Dia harus bersiap kehilangan kepercayaan dari redaksi. Ponsel Jae In tiba-tiba berbunyi membuatnya mengalihkan perhatian dari laptop. Ada pesan.
Kau sudah menemukan inspirasi ceritamu?
Dari Joon Myeon. Jae In membacanya dengan tatapan bosan. Dia membiarkan sms dari Joon Myeon begitu saja. Tak ada niat sama sekali untuk membalas pesan Joon Myeon. Jae In memeluk kakinya yang ia lipat. Dagunya bertopang pada lututnya. Dipandanginya dengan kosong pesan dari Joon Myeon.
Kau sudah menemukan inspirasi ceritamu? Tanpa sebab, pesan dari Joon Myeon membuatnya tertarik. Jae In seperti mendapat pencerahan dari para dewa. Dia mendapat ilham. Didekatkan dirinya pada laptop sebagai persiapan untuk menulis.
Begitu tangannya menyentuh keyboard—BLANK. Tiba-tiba hilang. Inspirasinya seolah menguap begitu saja. Bagaikan cat yang luntur terkena air. Jae In merasa ada yang kurang dari idenya. Tapi apa?
.
.
.
Paling lambat sore ini cerpen sudah dikumpulkan. Namun hingga hari sudah mulai menjelang siang, kanvasnya masih kosong. Mungkin Jae In akan mengumpulkan kertas kosong pada redaksi.
Jae In melihat kembali sms Joon Myeon kemarin. Jae In seperti mendapat inspirasi dengan sms Joon Myeon, tapi entah itu apa. Ini mungkin sama seperti kamu mengetahui sesuatu tapi kamu lupa namanya.
“Oh, ayolah,” keluh Jae In. Dari tadi pagi dia masih didepan laptop. Jae In mengambil ponselnya. Gadis itu hendak memberitahukan redaksi kalau dia tidak bisa mengumpulkan cerpennya untuk majalah edisi kali ini. Jae In sudah putus asa.
Titit~~ Ponselnya bergetar. Ada sms yang masuk.
Apa kamu sudah menyelesaikan ceritamu?
Masih dari Joon Myeon.  Lalu ponselnya bergetar lagi.
Aku didepan rumahmu. Keluarlah.
Jae In tercengang. Mau apa ketua redaksi datang ke rumahnya? Mau tak mau dia harus menyambutnya. Jae In membukakan pintu. Joon Myeon sudah ada didepan lalu Jae In mempersilahkannya masuk.
“Apa kau sudah menyelesaikan ceritamu?” tanya Joon Myeon.
“Nde?!” kata Jae In. “Be.. belum. Aku belum mendapatkan inspirasi. Sewaktu aku melihat pesan dari ketua, aku seperti mendapatkan ide, tapi aku tak tahu itu apa. Seperti… susah dijelaskan.”
Joon Myeon tersenyum. “Bagaimana dengan jalan-jalan kemarin?”
“Tak ada satu pun inspirasi yang hinggap dikepalaku. Aku tidak tahu harus menaruh apa sebagai ceritaku.”
“Kau menulis cerita cinta bukan?”
“Nde.”
“Bagaimana kalau kau jadikan aku sebagai bagian dari cerita cintamu?”
Jae In tercengang. Dia melihat Joon Myeon lekat-lekat. Joon Myeon hanya mengangkat keningnya menunggu jawaban. Jae In terdiam sejenak lalu memeluk Joon Myeon sebagai tanda kebahagiaan.
Jae In bahagia mendapatkan ide. Sekarang dia bisa menulis lalu mengumpulkan ceritanya pada redaksi. Jae In melepaskan pelukannya dari Joon Myeon lalu beralih pada meja kerjanya.
“Bagaimana dengan kehidupan nyata? Maukah kau jadikan aku sebagai bagian dari cerita cintamu?
Jae In kaget. “Ne.. nde?!”
Ayolah Jae In, masih ada yang lebih indah daripada daun yang telah gugur.

THE END


 -------------------------------------------------------
Gimana FF-nya? JANGAN JADI SR (SILENT READER) YA PLIS. Aku perlu komentar kalian biar tulisanku lebih baik lagi kedepannya. FF ini sebagai pelapiasan Writer Block yang waktu itu aku alamin :3 Makasih yang udah baca, lebih makasih lagi yang udah comment :3 #maksa ._.v

1 komentar:

  1. Good FF. Tpi kok, rsanya kyk critanya gantung, yah?
    Atau hanya pikiranku aja?
    Semangat nulisnya!
    FF Goodbye ditunggu klanjutannya...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...