GOODBYE
[Chapter 2]
[Cast]
Kim Myungsoo
(L Infinite) ; Eun Soo/You (OC)
[Rating]
PG-13
[Genre]
Romance ,
Sad, Angst, Tragedy
[Lenght]
Chaptered
Ibu merapikan kamar yang ditempatinya bersama
Eun Soo. Ibu mengangkat tas ransel besar milik Eun Soo. Kelihatannya dari luar
tak ada isi, namun ketika diangkat terasa berat. Ibu menguncang-guncangkan tas
Eun Soo. Karena penasaran, ibu membuka resleting tas.
“Eomma!” Eun Soo tiba-tiba masuk ke dalam
kamar.
“Wae?”
Eun Soo mengambil tasnya yang berada dalam
genggaman ibu seraya berkata, “Eomma, jangan capek-capek merapikan kamar ini
biar aku saja. Eomma sudah terlalu capek merapikan istana ini..”
“Ah… Tidak apa-apa. Biar ibu saja yang
membereskannya.”
Ibu berdiri lalu mencoba mereapkian beberapa
hal yang ada. Eun Soo mencegatnya dan menyuruh ibu duduk. Eun Soo memijat-mijat
bahu ibunya.
“Eomma, istirahatlah sejenak. Kamar ini biar
aku yang bersihkan.”
“Kau anak yang baik Eun Soo.”
Ibu menyandarkan dirinya ke tembok. Ibu mencoba
relaks sebentar. Semenjak Eun Soo disini, pekerjaan menjadi lebih terbantu.
Malam tiba dan para penghuni rumah sudah
terlelap. Sebenarnya kurang seorang. Tuan muda yang tempo hari baru pulang dari
Inggris itu. Ibu Eun Soo sudah tidur duluan. Sementara Eun Soo masih duduk
membaca.
Beginilah Eun Soo disela-sela aktivitasnya,
pasti selalu menyempatkan diri untuk belajar. Eun Soo berpikir, jika dia tidak
kuliah, setidaknya dia masih bisa mengulang ataupun mepelajari pelajaran.
Lampu-lampu rumah sudah dimatikan. Hanya
beberapa saja yang dinyalakan. Rumah sunyi tak ada suara. Sebenarnya tak
berbeda jauh dengan kondisi rumah pada siang hari. Eun soo mulai menguap.
Dirinya sudah tak kuasa lagi menahan kantuk. Sudah jam 02.00 pagi. Eun Soo
menutup bukunya lalu berbaring disamping ibunya yang sudah tidur duluan.
Ting tung~
Bel rumah berbunyi. Eun Soo yang baru saja
memasuki dunia mimpi harus terbangun karenanya. Siapa yang datang tengah malam
begini? Eun Soo dengan gontai berjalan keluar membuka pintu. Pintu di
gedor-gedo dari luar.
“Eomma~~,” suara tuan muda yang baru pulang
dari Inggris tempo hari lalu, Myungsoo. Dia dari luar mengetuk pintuk dengan
cukup keras.
Eun Soo membukakan pintu untuknya. Tiba-tiba
tubuh tuan muda menabrak Eun Soo. Eun Soo tak kuasa menahan tuan muda agar tak
jatuh. Walhasil, mereka berdua jatuh. Tubuh Eun Soo dibawah dan tuan muda
tengkurap diatasnya.
Seketika tuan muda tersadar. Wajahnya dan wajah
Eun Soo hanya berjarak beberapa senti saja. Mereka saling berhadapan. Mata Eun
Soo terbelalak. Myungsoo juga sama halnya, dia kaget karena sudah dalam posisi
seperti ini.
Tuan
muda segera berdiri diikuti Eun Soo.
“Maaf,”
ucap mereka berdua bersamaan.
“Ini
sa—“ lagi-lagi bersamaan.
“Tidak,
tidak, ini salahku. Maafkan aku,” kata Myungsoo. Myungsoo dengan sedikit terhuyung
dia berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Eun
Soo mendekati Myungsoo untuk menawarkan bantuannya. Dia tidak tega melihat tuannya berjalan terhuyung di
tangga. “Aku baik-baik saja,” kata
Myungsoo. Eun Soo memastikan dari jauh kalau tuan muda sudah masuk ke kamarnya.
Selepas itu dia melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Matahari
sudah mulai menampakkan dirinya. Jauh sebelum itu, para bibi sudah keluar dari
kamar mereka untuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan untuk para
majikan. Eun Soo ikut membantu walau cukup membuat tangannya teriris pisau
karena masih mengantuk.
Saat
para majikan sedang makan, Eun Soo berada ditaman untuk merawat tanaman yang
ada. Ada beberapa rumput yang perlu dipangkas. Eun Soo memulai pekerjaannya
dengan sepetak tanah yang berada disamping rumah.
Myungsoo
keluar duluan karena sudah selesai makan. Dia hari ini tidak begitu nafsu
makan. Padahal, menu yang dihidangkan tidak bisa dibilang tidak enak. Myungsoo
melihat Eun Soo yang sedang membereskan halaman.
Eun
Soo menyapu daun yang berguguran. Myungsoo tiba-tiba berlari memeluk Eun Soo.
Dia mendekap Eun Soo dengan tangan kanannya yang melindungi kepala Eun Soo
dengan tangan kirinya. BRAK! sebuah
pot bunga jatuh mengenai punggung Myungsoo.
Eun
Soo kaget. Dia baru sadar kalau tadi dia telah menyenggol rak pot bunga yang
ada. Myungsoo melepaskan pelukannya setelah pot bunga jatuh mengenai
punggungnya. Tuksedo yang dia pakai terlihat berdebu. Beruntung dia taka pa.
“Neo
gwenchana?” tanya Myungsoo.
“Maaf
sudah merepotkan,” kata Eun Soo membungkukkan dirinya. “Maaf.”
“Apakah
hidupmu hanya penuh dengan kata maaf? Ini hanya pertolongn kecil. Tidak
apa-apa.”
“Jas
anda menjadi kotor, biar saya bersihkan.”
“Tidak
usah. Aku ingin naik keatas sebentar. Lain kali hati-hati.”
Myungsoo
segera menghilang dari jangkauan Eun Soo sebelum Eun Soo membersihkan jas
miliknya. Myungsoo memegang dada sebelah kanannya—kenapa, Myungsoo?
Eun
Soo merasa bersalah pada Myungsoo. Lagi-lagi dia meminta maaf pada Tuhan. Kalau
dia bergeser sedikit ketika Myungsoo mendekapnya, pot sudah terkena pada kepala
Myungsoo. Eun Soo kesal pada dirinya sendiri. Tidak, ini terlalu cepat, pikirnya.
Eun Soo kembali melanjutkan kerjanya.
***
“Kebetulan sekali, ibuku sangat membutuhkan
orang sepertimu, Eun Soo,” komentar Yoo Ra saat Eun Soo berkunjung ke restorannya.
Eun Soo tersenyum. Dia berterima kasih pada
Yoo Ra. Yoo Ra membawa Eun Soo bertemu ibu Yoo Ra yang berada dibagain dalam
toko. Eun Soo berbincang sebenatar dengan ibu Yoo Ra mengenai jam kerja,
persyaratan kerja, dan beberapa hal lainnya.
“Baiklah, kau boleh kerja mulai hari ini kalau
kau mau,” kata ibu Yoo Ra.
“Gasahamnida Eomonim,” kata Eun Soo.
Sekarang dia bukan pengangguran lagi.
Setidakya dia bisa mengisi kekosongan waktunya selama dia mengatur waktu yang
tepat untuk membunuh targetnya. Eun Soo dibawa Yoo Ra menuju ruang pegawai. Dia
mengganti bajunya dengan seragam pegawai.
Eun Soo bekerja di restoran keluarga Yoo Ra, temannya.
Restoran ini merupakan restoran makanan cepat saji waralaba. Masih pagi dan belum banyak pengunjung.
Restoran pun baru saja dibuka. Eun Soo membantu Yoo Ra membereskan restoran.
“Seorang pria bersetelan mewah ditemukan tewas
mengenaskan dikamar hotelnya semalam,” penyiar berita menyiarkan berita pagi
yang sedang hangatnya. Cukup menggemparkan Korea untuk pagi yang berangin ini.
“Kejamnya,” Yoo Ra bergumam.
Eun Soo tanpa memprhatilkan tv dia tersenyum.
Senyum mencibir. Ya, walau tak berkomentar apapun, Eun Soo sudah mengetahui
situasinya. Selanjutnya, mereka pasti membunuh orang yang bersangkutan dengan
korban, pikir Eun Soo.
Pelik. Entah beberapa bulan kemudian, mungkin
ada berita tentang target yang sekarang ia tangani. Tuhan, hidup keras, batinnya. Eun Soo menerawang keluar jendela
toko yang bening karena baru saja dibersihkan. Seorang lelaki berlari kencang
pada trotoar jalan disebelah, diikuti beberapa lelaki lainnnya seraya
berteriak, “pencuri!”
Eun Soo meletakkan kain lap mejanya. Dengan
cepat Eun Soo berlari mengikuti orang-orang yang berlari tadi.
“Mau ke—“
Yoo Ra belum sempat menyelesaikan pertanyaannya dan Eun Soo sudah hilang
dari jangkauan matanya.
Eun Soo berlari sangat cepat. Para lelaki yang
dari tadi mengejar seorang yang dituduh sebagai pencuri itu, terlihat begitu
‘lembek’ bagi Eun Soo. Eun Soo sedikit tertawa mencibir. Seorang lelaki yang
sedari tadi mengejar sang pencuri berada sedikit dibelakangnya.
Eun Soo sekarang sudah berada tepat dibelakang
sang pencuri. Berusaha mencari kesempatan yang tepat untuk mengurusi sang
pencuri. Eun Soo menarik tudung jaketnya. Pencuri itu berusaha lari, Eun Soo
menarik tudung itu lebih kuat dan akihrnya lelaki itu jatuh.
Dia mencoba bangkit, sebagai imbalan Eun Soo memberikan
pendaratan sempurna kepalan tangannya diwajah sang pencuri ditambah sebuah
kuncian taekwondo ketika sang pencuri lagi-lagi berusaha untuk kabur. Beberapa
lelaki yang ada langsung mebereskan pencuri itu.
Eun Soo memungut dompet yang dijatuhkan oleh
pencuri itu. Sebuah mobil hitam berhenti disamping Eun Soo. Eun Soo mengalihkan
perhatiannya. Seorang lelaki bersetelan rapi keluar dari mobil. Eun Soo dengan
refleks langsung membungkukkan badannya.
“Tuan,” katanya.
“O, ternyata kau. Terimakasih,” kata lelaki itu.
Dia tuan muda yang tertua, Sung Kyu. Lebih tua dibandingkan Tuan Myungsoo. “Apa
yang harus aku lakukan atas pertolonganmu ini?”
“Ah.. tidak perlu tuan,” Eun Soo menolak. Dia
memberikan dompet tuannya. “Kalo begitu saya permisi dulu.”
Eun Soo segera berpamitan sebelum tuan muda
memberikan imbalan. Eun Soo kembali ke restoran Yoo Ra dengan keadaan berpeluh.
Yoo Ra melihat Eun Soo lalu berkomentar, “Woa, heroik rupanya.” Eun Soo
ternseyum tipis dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tuan muda tersenyum
dibalik mobilnya kemudian menyuruh sopirnya melanjutkan perjalanan.
***
Eun Soo merebahkan diri pada lantai kamarnya
dan ibunya. Lelah. Dia baru pulang dari restoran. Eun Soo menatap langit-langit
dengan pandangan kosong. Ini hari
pertamanya bekerja. Walaupun harus
melayani banyak pelanggan, bukan sesuatu yang membuatnya patah semangat.
Eun Soo memutar bola matanya. Dia memabawa
bola matanya berkeliling melihat sekitar. Kamar yang kecil, sempit, jauh dari
kata mewah. Eun Soo lagi-lagi merasa malu pada dirinya. Dia belum bisa
memberikan rumah bagi ibunya. Bersabarlah, pikirnya. Sebentar lagi ibunya tidak
perlu bersusah payah menyewa rumah dan lainnya. Seperempat dari dua kali lipat
bayaran tertinggi itu bukan nominal yang sedikit.
Eun Soo bangkit melihat kalender yang
digantung dikamar. Eun Soo menyilangkan tanggal hari ini. Dia masih mempunyai 5
bulan lagi. Bukan waktu yang cepat memang, tapi jika terlalu lama, dia mungkin
melupakan misinya.
Eun Soo merasa bosan. Sebentar lagi matahari
akan terbenam. Eun Soo keluar dari kamar menuju halaman belakang rumah yang
megah ini. Eun Soo duduk dibangku taman. Dirinya segera beranjak karena lampu
taman belum dinyalakan. Dia berniat menyalakannya.
Saat Eun Soo
berjalan menuju rumah, tiba-tiba seseorang memegang tangannya. Eun kaget
dan langsung membuat tangan orang itu tak bisa bergerak. Kuncian sederhana.
“Aaaa!” pekik orang itu kesakitan.
Eun Soo segera melepaskan kunciannya dan
membungkuk. “Maafkan aku, tuan. Maafkan aku.”
Tuan muda Myungsoo memegang tangannya yang
masih sakit. “Woa, ternyata kau garang
juga.”
“Maafkan aku tuan..”
“Aku akan memaafkanmu, jika kamu mau
menemaniku untuk jalan-jalan malam ini.”
Eun Soo menatap tuan muda kaget. “Ta.. Tapi—“
“Aku tak akan memaafkanmu.”
“Ba.. baiklah. Kalau begitu, tunggu sebentar—“
“Tidak perlu. Ikut saja.”
“Ta..ta—“
Belum sempat Eun Soo menyelesaikan
perktaannya, Myungsoo menariknya. Dia dibawa menuju mobil pribadinya. Myungsoo
membawa Eun Soo ke suatu tempat.
“Kita mau kemana tuan?”
“Kau akan tahu.”
Myungsoo membawa Eun Soo ke sebuah mall. Dia
membawa Eun Soo menuju toko baju. Eun Soo sedari tadi tak mengtakan apa-apa.
Dia hanya menuruti apa yang dikatakan tuannya selama itu tak macam-macam.
Myungsoo mendatangi bagian pakaian perempuan.
Dia memilah beberapa baju. Lalu menyuruh Eun Soo memakainya. Eun Soo agak
kaget, namun Myungsoo yang sadar akan itu memaksakannya. “Aku perlu model untuk
proyekku.”
Eun Soo disuruh mencoba dress selutut yang
manis untuknya. Pas sekali. Saat Eun Soo keluar, Myungsoo tidak ada. Eun Soo
mencari Myungsoo dan mendapatinya dikasir. Myungsoo mengalihkan padangannya
kepada Eun Soo.
Cukup lama di memperhatikan Eun Soo. Myungsoo
sadar dan segera membuyarkan
perhatiannnya. “Kemasilah barang-barangmu kita akan pergi kesuatu tempat. Oh
ya, pakai saja baju itu.”
Eun Soo kaget. Kenapa ini? “Palli wa,”
terguran Myungsoo membuat Eun Soo tak sempat bertanya mengapa tuan muda
melakukan ini padanya. Eun Soo dibawa menuju taman dibawah jembatan. Banyak
sekali orang disana.
Ada yang sekedar duduk-duduk menikmati
indahnya sungai Han yang membelah Korea, ada yang hanya berolahraga malam, dan
sebagainya. Eun Soo dan Myungsoo duduk dibangku. Sebangku, namun berjarak cukup
jauh.
“Ini,” Myungsoo memberikan se-cup kopi pada
Eun Soo. Eun Soo dengan hormatnya menerima kopi yang diberikannya. Eun Soo
meneguknya sedikit. “Aish, kau ini.”
“Sudahlah, anggap saja aku ini temanmu, bukan
majikamu. Lagi pula, ini bukan dirumah. Kau tidak perlu bersikap kaku seperti
itu. Jika kau seperti ini, jalan-jalan menjadi tidak mengasyikkan.”
Eun Soo hanya diam saja. Dia mengagguk pelan.
“Ah, kau ini. Masih saja bersikap seperti itu.
Apa aku perlu memberiu kursus?!” nada bicaranya kali ini lebih tinggi.
“A.. aniyo!” kata Eun Soo.
Myungsoo tertawa melihat tingkah Eun Soo. Eun
Soo menunduk malu. Myungsoo memegang dadanya. Dia menarik napas panjang.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Eun Soo
“Gwenchana..” Myungsoo tersenyum. “Aku ingin
berbagi kebahagiaan denganmu.”
“Ceritakanlah, aku akan mendengarnya dengan
senang hati.”
“Aku pernah merasa sangat senang sekali ketika
aku SMA. Dan, saat aku beranjak dewasa, aku merasa hidupku lurus saja. Namun
entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasakan kesenangan yang melebihi rasa
senangku saat SMA.”
Eun Soo
menatap Myungsoo sendu. Dia kasihan. Dia terdiam agak lama. “Ah.. benarkah? Apa
yang menyebabkanmu begitu senang?”
“Suatu hal.”
Saku jas Myungsoo bergetar diiringi nada
dering ponselnya. Ada yang menelpon: eomma. Myungsoo mengangkat telponnya
dengan malas.
“Kau dimana?” tanya suara eomma-nya diseberang
sana.
“Aku sedang jalan-jalan. Sudah lama aku tidak
melihat Seoul. Aku mungkin akan pulang larut. Ibu tidak perlu menungguku.”
“Oh, baiklah. Jaga dirimu baik-baik.”
“Nde.”
Myungsoo menyimpan ponselnya lalu terenyum
pada Eun Soo.
“Kenapa? Apakah nyonya besar sudah memintamu
pulang? Sebaiknya kita pulang saja.”
“Tidak. Dia hanya menanyakan keadaanku.”
Eun Soo menatap Myungsoo cukup lama. Myungsoo
menjadi kikuk—Myungsoo, kau terlalu
merasa. Eun Soo menyipitkan matanya. Hal itu membuatnya sadar kalau Eun Soo
bukan menatap padanya, namun dibelakangnya.
Myungsoo melihat kebelakang untuk memastikan
apa yang Eun Soo lihat. Namun tiba-tiba Eun Soo menggenggam tangan Myungsoo.
Erat. Myungsoo menatap Eun Soo kaget.
“Mari kita pergi ke tempat lain aku merasa…
kita perlu berjalan-jalan ke lain tempat,” kata Eun Soo. Dia sudah berdiri
sambil memegang tangan Myungsoo. Eun Soo terlihat agak gugup. Dia cukup salah
tingkah.
“Kau benar sekali! Ayo kita pergi.” Myungsoo
membenarkan. Dia membalas apitan tangan Eun Soo. Kini mereka berjalan dengan
bergandengan tangan.
“Kau mau kemana?”
“Terserah padamu saja,” kata Eun Soo. Sesekali
ia menengok kebelakang. Jalannya dipercepat. Dia seperti sedang menghindari
sesuatu. Jantung Eun Soo berdegup kencang karena saking takutnya. Eun Soo
meraba jantungnya.
Myungsoo tersenyum akan itu—lagi-lagi kau terlalu merasa, Myungsoo.
Myungsoo membawa Eun Soo pada tempat penyewaan sepeda. Myungsoo mengambil
sepedanya sendiri, dan Eun Soo sendiri.
“Mari kita balapan,” katanya. Myungsoo mencuri
start duluan.
“Yak!!” pekik Eun Soo. Dia segera mengejar
Myungsoo yang tak jauh didepannya.
Saat Eun Soo sudah jauh dari Myungsoo, ada
seorang lelaki yang keluar dari kedai kaki lima. Eun Soo kaget dan langsung mengerem
sepedanya. Eun Soo memutar haluannya menuju ke jalan yang lain. Myungsoo bingung
dan mencoba mengejar Eun Soo yang sudah jauh.
“Ya! Ada apa?!”
Eun Soo tidak merespon. Dia mengayuh sepedanya
berbalik menuju tempat awal mereka start tadi. Eun Soo segera memarkir
sepedanya lalu mencoba bersembunyi dibalik parkiran sewaan sepeda.
“Ada apa denganmu?” tanya Myungsoo memarkir
sepedanya.
“Mianhaeyo, Myungsoo,” ungkap Eun Soo. “Aku
rasa jalan-jalan kita harus berakhir lebih cepat. Aku merasa lelah. Tadi saat
kau memintaku menemanimu, aku baru saja pulang bekerja.”
“Yasudahlah, tak apa. Aku juga merasa ini
sudah saatnya kita pulang. Mari, biar kuantar pulang,” Myungsoo menawarkan Eun
Soo untuk pulang bersamanya.
“Ta—“
“Ayolah,” Myungsoo mengapit tangan Eun Soo
sebelum Eun Soo menolak. Dia memembawa Eun Soo ke mobilnya.
Eun Soo melepaskan tangan Myungsoo ketika
sampai di mobil. Meeka berdua terlihat canggung terlihat canggung begitu
menyadari kalau mereka bergandengan dari tadi.
Eun Soo menarik napas lega ketika berada di
mobil. Hampir saja. Dia tadi mencoba menghindari anak buah bosnya yang sedang
berkeliaran. Dirinya kaget dan jantungnya berdegup kencang ketika salah satu
anak buah bosnya menatapnya. Beruntung
tak ada yang menyadarinya kalau itu dia.
***
Ponsel bos Eun Soo bergetar. Dia meregohnya
pada saku celananya. Ternyata, dari klien istimewa. Bos menurunkan kakinya dari
mejanya.
“Yoboseyo tuan,” sapanya mengangkat telepon.
“Sudah sampai tahap mana kau membereskan dia?”
“Kami
sudah memerintahkan anak buahku untuk menanganinya.”
“Ah,
kuraeyo? Aku harap tidak terlalu lama. Ingat batas waktumu.”
“Nde.”
Telepon
langsung ditutup dengan cepatnya. Suara klien yang begitu dingin. Klien yang
berkepribadian dingin itu menatap foto dimejanya. Foto ibunya. Tatapannya
menyiratkan kesedihan juga kebencian dan dendam yang membara.
Dilain
tempat, Eun Soo mencoba membanting lawannya. Namun tidak semudah yang
dibayangkannya. Ini lawan yang seimbang untuknya. Sama-sama kuat. Peluh
mengucur dari dahinya. Belakangnya sudah basah.
BAK!! Eun Soo jatuh. Dia dibanting oleh
lawannya. Lawannya mengulurkan tangan kepadanya membantunya berdiri. Nafas
mereka berdua tersengal-sengal. Lawan Eun Soo berusaha mengatur nafas lalu
berkata, “Kau selalu saja kuat, Eun Soo.”
Eun
Soo hanya tersenyum. Dia membaringkan tubuhnya di arena pertandingan. Lelah.
Tapi ini tidak semelelahkan hidupnya selama ini. Eun Soo memandang langit-langit
ruang latihan. Lawannya ikut berbaring disampingnya.
“Apakah
kau mempunyai masalah?” tanya lawannya. “Aku merasa hari ini kau kurang
berkonsentrasi.”
Eun
Soo hanya diam. Dia lalu menyengir. “Bukan apa-apa, Howon.”
Howon
menyikut Eun Soo. “Jika kau merasa perlu membaginya, aku akan bersedia
mendengarkannya.” Dia lalu bangkit menuju ruang ganti.
Eun
Soo masih saja menatap langit-langit. Dia masih memikirkan sesuatu. Terkadang
dia merasa menyesal mengambil pekerjaan ini. Kenapa bukan perkerjaan yang lain
saja? Eun Soo tertawa mencibir pada dirinya sendiri.
Harga
dirinya tinggi sekali dan dia terlalu berpikir pendek waktu itu. Pada saat itu,
dirinya hanya berpikir ada dua jalan untuk mendapatkan uang yang cepat. Menerima
tawaran Jung Tae dengan taruhan yang besar atau menjadi wanita malam.
Eun
Soo merasa lebih biak dia menerima tawaran Jung Tae dari pada dia harus
merelakan harga dirinya. Dan sekali misi hasilnya tidak bisa dibilang sedikit.
Eun Soo menibir pada dirinya sendiri. Bukankah sama saja menjual diri dengan membunuh
orang? Atau? Sudahlah. Eun Soo muak memikirkan hidupnya. Dia beranjak dari
tempatnya menuju ruang ganti untuk masuk shift siang ini.
Jarak
tempatnya sekarang dengan restoran Yoo Ra tidak terlalu jauh. Hanya perlu
berjalan 15 menit. Eun Soo merasa ingin memakan es loli. Eun Soo mampir ke
salah satu supermarket untuk membeli es.
“Woaa,
lihatlah,” kata seseorang dari gang sempit disamping supermarket saat Eun Soo
keluar dengan memakan es-nya.
Eun
Soo berpaling pada sumber suara. Seorang lelaki berdiri dengan tampang
bengisnya. Dia memperhatikan Eun Soo dengan pandangan yang melecehkan. Dengan
dinginnya, Eun Soo menghampiri lelaki tersebut.
“Woa,
kau semakin cantik saja, agassi,” katanya mendekati Eun Soo. Dia mengusap pipi Eun Soo. “Aku masih ingat
ketika kau melawan komplotan kami.”
Dia
mengelilingi Eun Soo, melihat Eun Soo dari atas kebawah. Eun Soo mengepalkan
tangannya. Dia geram. Puih, Eun Soo
meludahi wajah pria dengan tampang bengis itu. Sontak saja, pria itu kaget.
“Kau
berani rupanya,” katanya. Dia mencoba melawan Eun Soo dengan melayangkan
pukulannya ke arah wajah Eun Soo yang jelita.
TAK! Eun Soo menahannya. Kakinya
menendang perut pria itu. Dia cukup kuat, dia hanya mundur beberapa langkah.
Sosok gelap dari sudut gang keluar. Ada tiga orang. Ini tidak fair. Eun Soo
tersenyum. Dia mengumpat. Mau melawanku?
Tiga
orang tadi sudah mengepungnya. Pria bengis yang selaku bosnya itu tertawa.
“Menyerahlah selagi bisa, Agassi.”
“Jangan
menjilat ludahmu sendiri Ahjussi.”
Eun
Soo lagi-lagi menendang Ahjussi itu. Kaki kananya dia layangkan pada perut pria
itu. Sepatu Eun Soo yag cukup keras membuat Ahjussi mundur lebih jauh. Anak
buahnya mencoba memukul Eun Soo dengan besi yang bereka bawa.
Eun
Soo bertindak cepat dengan memberikan tendangan pada wajah pak tua genit itu. Lalu
memberikan kuncian dan membanting Ahjussi. Ahjusii jatuh menindih 3 Anak
buahnya. Jika Eun Soo laki-laki, mungkin dia sudah mengangkat Ahjussi ke udara.
Tongkat
besi yang dipegang anak buahnya terlepas dari genggaman mereka. Eun Soo dengan
sigap mengambil tongkat mereka. Mereka bertiga mencoba berdiri dengan umpatan
dimulut mereka. BAKK!! Eun Soo
memukul mereka dengan tongkat pada lutut mereka, lalupada wajah mereka.
Lebam
sudah wajah mereka. Eun Soo tidak sampai hati untuk memulangkan nyawa mereka.
Mereka berempat dengan bersusah payah berdiri. Eun Soo menabah pukulannya pada
daerah perut mereka.
Mereka
berempat sudah roboh. Salah satu dari mereka mencoba bangkit namun kaki Eun Soo
menahan mereka. Lebam dan berdarah sudah mereka. Eun Soo melihat keempat pria
tak benar itu dengan tatapan mencibir.
“Kalau
aku tega aku sudah—“ Eun Soo mengangkat kakinya mencoba menginjak lelakai yang
ada dibawahnya.
“A..
Andwae!” pekiknya.
Eun
Soo tertawa. Eun Soo memain-mainkan tongkat besi yang dipegangnya. Dia
mengarahkan tongkatnya pada bos mereka. Mengelus-ngelus dagu Ahjusdi dengan
togkatnya.
“Aigoo
ahjussi, sayangnya, kau telah menjilati ludahu sendiri,” kata Eun Soo. “Biarkan
aku memberikan sentuhan terakhir…” Eun Soo memukul mereka berempat dengan besi
pada kaki mereka. Mereka berempat meringis.
Lalu
dia membuang tongkat mereka pada tong sampah. “Ah nde, janganlah jadi pengecut
depan wanita, Ahjussi. Satu lawan empat itu tidak fair.”
Eun
Soo berjalan meninggalkan mereka berempat dengan santainya. Kawan lama. Tahun
lalu Eun Soo dan komplotannya menjalankan ‘pesanan’ klien dan dihadang oleh
mereka. Eun Soo menjadi terkenal karena dia wanita. Jarang-jarang ada wanita
bergabung.
“Tuan
haruskah—“
“Tidak,
biarkan saja,” jawab tuan muda Sung Kyu.
Sung
Kyu terus melihat Eun Soo berlalu dari balik mobilnya. Tak berselang lama ‘kawan
lama’ Eun Soo yang babak belur keluar dari gang dengan terpogoh-pogoh. Mereka
saling bahu membahu berjalan menuju apotik terdekat berusaha mengobati luka
mereka.
Sung
Kyu melihat keempat pria itu dari kejauhan. Familiar, wajah keempat orang itu baginya.
Sung Kyu memerintahkan sopirnya untuk jalan.
“Annyeonghaseyo,
ada yang bisa saya bantu?” tanya Eun Soo menyapa pelanggan.
“Paket
2,” jawabnya.
“Oh!
Tuan!”
“Santailah.
Bisa kita bicara?”
Eun
Soo membawakan pesanan Sung Kyu ke mejanya.
“Anjo.”
Eun
Soo pun duduk. Sung Kyu mengesap cola yang dia pesan. Sung Kyu menyilangkan
kakinya dengan santai. Eun Soo masih saja kaku bak dia berada di rumah.
“Santai
saja,” awalnya. “Apa kau bisa bela diri Eun Soo?”
Eun
Soo agak kaget. “Ah.. Nde. Memangnya kenapa tuan?”
“Aniyo.
Aku hanya menebak. Olahraga apa? Taekwondo? Karate? Kung Fu?”
“Taekwondo.”
“Santai
saja, aku tidak akan memakanmu,” katanya tertawa. Sung Kyu lalu memakan makan
siangnya dengan lahap.
Eun
Soo memohon diri untuk segera kembali pada tempatnya. Eun Soo dengan segera
melayani pelanggan yang mulai berdatangan untuk makan siang. Sesekali dia
mengintip kepada tuan muda Sung kyu. Eun Soo takut bila identitasnya
terbongkar. Eun Soo mestinya lebih waspada lagi.
Usai
makan, Sung Kyu langsung kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaanya.
Pikiran Sung Kyu masih terusik dengan kejadian tadi. Dia merasa aneh bila empat
lelaki yang familiar dan terlihat berandal itu keluar dari gang sepit dan gelap
selang beberapa saat dengan Eun Soo. Aneh bila gadis baik-baik seperti Eun Soo
berhubungan dengan mereka, pikirnya.
“Siapa
dia?” tanya Yoo Ra berusaha mengganggu Eun Soo.
“Majikan
ibuku.”
Yoo
Ra menyikut Eun Soo. Eun Soo hanya tertawa.
Sementara
dilain tempat Myungsoo masih berada di kantor untuk meeting. Meeting yang
berlangsung cukup lama. Tanggung, bila diakhiri. Namun nampaknya perut Myungsoo
tidak memberi toleransi padanya.
“Kalau
begitu, rapat kali ini sampai disini. Pembahasan menganai proyek ini akan
dilanjutkan pada esok hari, pada jam yang sama. Gamsahamnida.”
Myungsoo
senang. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan keluar. Myungsoo menguap.
Dia melihat arlojinya. Sudah waktunya makan siang. Myungsoo memegang perutnya yang
mulai mengaum.
Myungsoo
menelpon restoran cepat saji untuk pesan antar makanan. Setelah itu, Myungsoo
naik ke lantai atas dimana ruang kerjanya berada. Hanya beberapa orang anggota
seksinya saja yang makan dikantor. Myngsoo bekerja disalah satu divisi dari
perusahaan sebagai direktur divisi tersebut.
Myungsoo masuk ke ruangannya dan duduk
dimejanya. Ah, membosankan sekali bila seperti ini. Kantor sepi, dan hanya dia
seorang yang berada dala ruangan khusunya yang disekat dengan kaca ini.
Myungsoo meraih ponsel. Myungsoo main game
sembari menunggu makananya. Iseng. Tok,
tok, tok. Pintu ruangan Myungsoo diketuk.
“Masuk!” kata Myungsoo yang masih saja sibuk
dengan ponselnya.
Myungsoo sekarang sedang mengirim pesan kepada
seseorang—MESSAGE SEND. Titit, ponsel
seseorang berbunyi sekian detik setelah Myungsoo mengirim pesan. Bunyinya
berasal dari ruangan Myungsoo. Myungsoo mengalihkan pandangannya dari ponselnya
menuju asal suara tersebut: tepat didepannya.
“Oh, Neo!” Myungsoo kaget saat ia mengetahui
ponsel siapa yang berbunyi tadi.
Seseorang didepannya itu sedang berusaha
mengecek ponselnya kaget karena Myungsoo. Seseorang itu kaget ketika dia tahu
kalau dia sedang bertemu Myungsoo. “Tuan muda…”
“Ternyata kau bekerja dia restoran itu,” kata
Myungsoo. Orang yang dihadapannya adalah Eun Soo.
Eun Soo menaruh pesanan Myungsoo di mejanya.
“Selamat menikmati,” katanya. “Kalau begitu, saya permisi dulu,” Eun Soo
membungkuk hormat pada Myungsoo.
“Tunggu-tunggu.”
“Ada apa?”
“Jangan dulu pergi. Aku tidak suka makan sendiri,
aku merasa kesepian. Temani aku sebentar saja, sampai aku menghabiskan
makananku.”
“Tapi saya harus kembali bekerja.”
“Ini,” Myungsoo menyerahkan sejumlah uang
kepada Eun Soo.
“Untuk apa?”
“Kau mau pergi tanpa bayar?”
Eun Soo malu. Dia lalu mebungkuk hormat sekali
lagi lalu pergi. Myungsoo tersenyum kecil. Eun Soo berjalan keluar dari kantor
Myungsoo yang besar itu.
Didalam mobil, dalam perjalanan menuju kantor,
tuan muda Sung Kyu masih sibuk dengan pemikirannya tentang kejadian tadi. Siapa
sebenarnya ke empat pria itu? Kenapa terlihat begitu familiar?
Sung Kyu tersadar, kalau dia kenal mereka. Dia
pernah melihat mereka saat membereskan masalah tentang proyek di gangnam pada
malam hari. Mereka gangster yang memerasnya waktu itu.
Sung Kyu semakin bingung. Eun Soo dan keempat
pria itu? Babak belur? Ada siapa disana? Apa Eun Soo melawan mereka semua
sendiri? Mungkin saja karena dia bisa beladiri. Tapi satu lawan empat bagi
wanita itu terlalu banyak. Sung Kyu
penasaran.
“Tuan,
sudah sampai.”
Sung
Kyu segera turun dari mobil. Pada saat yang bersamaan, Eun Soo keluar dari
kantor. Sung Kyu melihat Eun Soo.
“O,
Eun Soo-ssi!” panggilnya.
Eun
Soo menoleh. Sung Kyu menghampiri Eun Soo. Eun Soo memberikan hormat pada Sung
Kyu. Sung Kyu tersenyum pada Eun Soo lalu berkata, “apakah aku punya waktu
malam ini?”
(To Be Continued)
--------------------------------------------------------
Gimana? Maaf lama, karena PR yang kejam, aku jadi gini (?) Semoga masih penasaran sama cheapter selanjutnya yaa. JANGAN LUPA KOMEN YAAAA T__T Kalo gada yang komen rasanya kea gada yang baca.
.png)
Waah, chapter 2 ini isinya ekstra yaaa :D wkwk. Bagus kok. Makin penasaran sama chapter selanjutnya. Semangat dongsaeng ('o')9
BalasHapus