15 Agustus 2014

[FF] Alone Halmoni

Alone Halmoni
[One Shoot]


[Cast]
 Eun Ji A-Pink
[Rating]
 Under
 [Genre]
Family, Comedy
[Lenght]
One Shoot
[Dislaimer]
PLEASE DO NOT COPY PASTE THIS FF. DO NOT CLAIM THIS FF/ COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE YOUR COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE ARE SOME TYPOS. Gamsahamnida^^


            Eun Ji naik keatas mobil. Hari ini ibunya yang menyetir. Mungkin diantara ratusan kali Eun Ji naik mobil, ini adalah kali keduanya dia dispoiri oleh ibunya. Eun Ji akan dibawa ke suatu tempat oleh ibunya.
            “Kita mau kemana eomma?” tanya Eun Ji. Dia sebenarnya agak kesal.
            Ibunya hanya tersenyum. Pagi di hari libur ini dia harus merelakan janjinya untuk bermain bersama teman-temannya di arena balapan.
            Eun Ji akhirnya kena imbasnya. Eun Ji bukan yeoja yang penurut ataupun kalem dan terlihat anggun. Gaya jalannya tidak feminin, jam pulangnya pun tak beraturan. Dia sering keluyuran dan pulang hingga larut malam kadang pagi.
            Memang dia sudah besar, tapi sebagai orang tua, ibu Eun Ji merasa khawatir. Ibu Eun Ji harap dengan memasukkan Eun Ji pada komunitas miliknya dia akan berubah.
            Eun Ji turun dari mobil. Ini rumah teman ibunya. Bibi Park. Apakah aku diminta untuk menemani ibu berbincang dengan komunitasnya? Pikir Eun Ji. Bukan. Kau harus bergabung dalam komunitasnya, Eun Ji. 
            Eun Ji memberi salam kepada Bibi Park lalu duduk cukup jauh dari kerumunan ibu-ibu yang berkumpul di ruang tamu. Bibi Park adalah pemimpin komintas “Teman Orang Tua”. Mereka ramai sekali. Jika ibu-ibu bertemu, keceriwisan pun muncul.
            “Eun Ji, kamu tolong pergi ke alamat ini.” Bibi Park memberikannya sebuah alamat.
            “Untuk apa bibi?”
            “Kau akan tahu jika sudah sampai. Semoga menyenangkan!” kata Bibi Park seraya mengantarkan Eun Ji keluar. Sebenarnya itu lebih terkesan seperti ‘mengusir’.
            Eun Ji hanya menuruti saja apa yang diakatan Bibi Park kepadanya. Eun Ji berpikir ini lebih baik dari pada dia harus bertemu dengan ibu-ibu nan ceriwis. Kunci mobil ada di ibunya, Eun Ji terpaksa menggunakan bus untuk pergi ke alamat tersebut.
            Alamatnya ternyata cukup jauh. Alamatnya menuju pada sebuah rumah yang masih bergayakan rumah tradisional korea. Halamannya cukup luas. Namun seperti tidak terurus. Eun Ji masuk lalu mengetuk pintu.
            “Permisi,” katanya. Cukup lama, tak ada yang menjawab. “Permisi…”
            Cukup lama tak ada yang menjawab. “Permisi!” Eun Ji sedikit berteriak.
            “……..”
            “Permisi!” Eun Ji berbicara lebih kencang lagi.
            “Ya… ya… ya.. Aku mendengarnya!” seseorang dari dalam membukakan pintu untuknya. “Kau kira aku tuli?!” Dia seorang nenek-nenek. Sudah cukup tua.
            “Ah… Maafkan aku nek, maafkan aku.” Eun Ji membungkuk minta maaf kepada nenek yang tidak dikenalinya itu.
            “Kau siapa?”
            “Aku disuruh Bibi Park kesini.”
            “Ah.. Park… Kau pasti datang untuk menemaniku. Ayo masuk!“
            “Me.. ne.. ma.. ni?” Eun Ji terpaku dengan perkataan nenek tadi.
            Mimpi apa dia semalam dia harus menemani nenek-nenek tua. Eun Ji berbalik arah kebelakang dan ingin kabur, dia sudah melangkahkan kakinya selangkah menjauh dari daun pintu.
            “HEI! KAU JANGAN BERUSAHA UNTUK KABUR!” teriak nenek itu.
            Eun Ji menghentikan langkahnya lalu berbalik kearah seperti semula. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa nenek itu tau kalau dia kabur sedangkan nenek tersebut sudah jauh masuk kedalam rumah.
            Mau tidak mau, daripada dibilang durhaka, Eun Ji masuk untuk menemani nenek tersebut dengan terpaksa daripada dia terkena omel ibunya.
            Nenek duduk didepan televisi miliknya. Dia serius menonton dama. Eun Ji duduk cukup jauh dari nenek. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Mungkin dia bisa melakukan sesuatu agar dia bisa pulang lebih awal atau apapun yang bisa membebaskan dia dari nenek-nenek ini.
            “Kau lihat apa?! Buatkan aku teh!” katanya menyuruh Eun Ji.
            “Ba.. baik…”
            Eun Ji menuju dapur nenek dan membuatkan nenek teh. Setelah the jadi, Eun Ji menghidangkannya dengan sesopan mungkin. Nenek melihat teh yang dibuat Eun Ji.
            “Mana kuenya? Ambilkan kuenya diatas meja.”
            Eun Ji mengambilkan kue milik nenek. Eun Ji melayani nenek dengan bermuka masam. Sebenarnya kenapa nenek ini selalu marah-marah? Apakah dia sedang PMS. -__-“
            Eun Ji duduk cukup jauh dari nenek. Karena bosan, dia mengantuk dan akhirnya ketiduran.
            “Tolong pijit bahuku. Bahuku pegal,” lagi-lagi nenek menyuruh Eun JI. Eun Ji tidak merespon. Dia terlelap dengan asyiknya.
            Nenek berbalik kebelakang. Dia mendekati Eun Ji lalau memukulnya dan seraya berkata, “Ya! Pijitkan bahuku! Dasar kau anak yang pemalas!”
            “A.. A… SAKIT!” Eun Ji berteriak kesakitan. Dia baru sadar kalau yang ia teriaki adalah seorang nenek-nenek. Eun Ji segera berdiri lalu membungkuk meminta maaf pada nenek.
            “Aish.. kenapa Woo Ri menyuruhmu menjagaku hari ini! Kenapa mereka meminta anak muda menjagaku?! Hei! Cepat pijit bahuku, kenapa kau hanya melihat-lihat?!”
            Dengan malas, Eun Ji memijat bahu nenek. Walaupun sudah dituruti keinginannya, nenek itu masih saja mengomel. Kadang-kadang omelannya memaki-maki Eun Ji.
            Eun Ji terkekang. Dia serasa berada di neraka. Setelah menyudahi sesi pijit, nenek meminta Eun Ji duduk mendengar ceritanya semasa muda.
            Eun Ji terpaksa duduk. Dia tidak boleh duduk bersila, melainkan dengan melipat kakinya. Nenek menceritakan pengalaman hidupnya dari dia kecil hingga sampai sekarang ini. Eun Ji mendengarkannya hingga kakinya keram.
            Bukan lagi keram, melainkan sakit. Karena duduk mendengarkan cerita dari pagi hingga siang, perut Eun Ji mulai keroncongan.
            “Nenek… maaf meyela pembicaraanmu. Apakah nenek tidak lapar?”
            “Aa… Aku juga merasakan itu ketika aku lari dari tentara Jepang!”
            “Bu.. Bukan, maksudku nenek tidak mekan siang? Sekarang sudah waktunya.”
            “Aa.. benarkah? Kalau begitu tolong kamu siapkan makanan dan suapi aku!”
            Eun Ji terdiam. Dia harus mengurus makan nenek-nenek ini?
            “Kau tunggu apalagi?! Cepatlah!”
            Eun Ji segera berdiri menuju dapur. Dia mencari makanan pa yang bisa dia hidangkan untuk nenek. Tidak ada apa-apa. Dikulkas pun tidak ada. Memasak? Eun Ji tidak bisa. Apa yang harus dia lakukan?
            Eun Ji mengambil handphonenya lalu menghubungi restoran bubur Korea untuk mengantarkan bubur mereka ke rumah nenek. Setelah menelpon, Eun Ji duduk didapur menunggu sang kurir mengantarkan bubur.
            “HEI ANAK MUDA.. KENAPA KAU LAMA SEKALI?!” Nenek tua itu menegurnya.
            “Se.. sebentar nek, aku sedang memasakanya untukmu…”
            Eun Ji mulai takut kalau nenek tahu dia tidak memasak sama sekali dan malah memesan makanan dari luar. Eun Ji melihat kesekitar. Ada pintu samping. Eun Ji mencoba melihat keluar sambil menunggu kurir.
            Pintu pagar tiba-tiba bergerak. Dibuka oleh sesorang. Eun Ji menghampirinya dan berharap itu adalah kurir. Ternyata benar. Eun Ji mengambil makananya dan menyalinnya ke mangkuk lalu membayar  tagihannya.
            Sekarang, bubur sudah siap. Eun Ji menghidangkannya untuk nenek yang tidak dikenalnya itu dengan sesopan mungkin.
            “Wa.. harum sekali,” komentar nenek.
            Eun Ji mulai menyuapi nenek dan berkata, “Enak sekali. Aku belum pernah makan bubur seenak ini. Hei anak muda, ternyata kau pintar juga dalam memasak!”
            Eun Ji tersenyum. Sebenarnya dia ingin tertawa geli karena nenek menganggap kalau ini adalah masakannya. Nenek memakannya dengan lahap.
            Setelah makan siang, nenek mulai mengantuk dan tertidur didepan tv. Eun Ji terpaksa menggendong nenek menuju kamarnya. Eun Ji harap, dia sudah bisa pulang sekarang. Eun Ji menelepon Bibi Park.
            “Bibi Park, nenek sudah tidur, bolehkah aku pulang sekarang?” tanyanya.
            “Kau boleh pulang bila malam tiba,” jawab Bibi Park lalu menutup telpon.
            “Yoeobose—“
            Eun Ji enarik napas dalam. Ini neraka. Dia segera mengambil tasnya lalu keluar dari rumah. Dia kabur
            “HEI ANAK MUDA! KAU JANGAN BERUSAHA UNTUK KABUR!!!” Nenek itu berteriak. Nenek tiba-tiba sudah berada didepan pintu.
            Eun Ji meringis. Nenek selalu mencegahnya untuk keluar dari neraka. Eun Ji menoleh kebelakang lalu berjalan menuju nenek. Nenek memukulinya dan mengomelinya. Sesekali nenek mengumpat padanya.
            What a bad day.
***
            Eun Ji kembali lagi bertemu pada akhir pekan. Dia harus pergi lagi ke rumah nenek-nenek itu. Nenek yang suka memarahinya.
            Eun Ji pergi ke rumah nenek dengan membawa mobilnya sendiri. Eun Ji sengaja melambankan mobilnya agar dia bisa lebih lama sampai ke rumah nenek.
            Eun Ji menghela napas panjang saat sampai didepan pintu.
            “Permisi nenek…,” katanya seraya mengetuk pintu.
            Lagi-lagi  tak ada yang menjawab. Eun Ji sudah menduga dia akan disambut dengan omelan nenek.
            “Permisi nenek..”
            Tak ada yang menjawab. Eun Ji memutuskan untuk langsung saja masuk ke dalam rumah.
            “OMO!” Eun Ji kaget saat melihat nenek sudah merayap menuju dirinya. “Nenek… baik-baik saja?” Eun Ji menghampiri nenek dan memeriksa keadaan nenek.
            Eun Ji segera menggendong nenek menuju mobilnya dan membawanya menuju rumah sakit. Eun Ji menancap gas mobilnya penuh sehingga mobil melaju sangat kencang.
            Tiba-tiba kepalanya dijitak.
            “HEI! Bawa pelan-pelan!” omel nenek. Tiba-tiba nenek sudah duduk dengan antengnya.
            Eun Ji yang kaget segera mengerem mobilnya. Ban mobilnya berdecit. Mereka berdua tersandung kedepan. Nenek sekali lagi memukulinya dan mengomelinya, “Kau ingin membunuhku?! Ha?! Keluar! Cepat keluar!”
            “Ta.. ta.. pi..—“
            “Keluar!”
            Eun Ji terpaksa keluar dari mobil. Nenek ikut keluar juga, namun pindah tempat duduk menjadi kurdsi pengemudi. “Hei anak muda, bagaimana cara engemudiakan mobil ini? Kau tak becus mengemudikannya!”
            Eun Ji menahan amarahnya. Dia malah tertawa geli. Nenek-nenek ini kenapa sok tahu sekali? Eun Ji meminta nenek pindah kembali ke tempat duduknya.
            “Nek, aku mohon nenek pindah saja dibelakang. Aku berjanji, akan mengemudikan mobil ini pelan-pelan….”
            “Ani, ani, kau membawanya seperti pada karena balap. Apa kau mau mati!?!”
            “Jangan khawatir nek, aku akan membawanya dengan se… baik mungkin. Se pelan mungkin agar kau bisa melihat pemandangan.”
            “Aku juga bisa mengendarai mobil! Waktu muda dulu aku bekerja di pertambangandan mengendarai truk besar!”
            Nenek bersikukuh untuk mengemudiakn mobil. Eun Soo putus asa. Dia membuka pintu pengemudi lalu menggendong nenek memindahkannya ke kursi belakang. Nenek memukulnya dan lagi-lagi mengomelinya.
            “!@#$%&!!”
            “Nenek diam saja, dan lihat pemandangan kota Seoul,” kata Eun Ji lalu masuk ke kursi pengemudi. “Kapan terakhir kali nenek berkeliling kota Seoul?”
            “Aku sudah lupa,” jawab nenek yang akhirnya tenang kembali. “Kau jangan menganggap jalanan ini adalah arenamu!”
            Eun Ji melihat nenek lewat kaca spionnya. Dia tersenyum. Eun Ji  membawa nenek menuju rumah sakit. Dia hanya ingin memastikan kalau nenek tidak kenapa-napa ketika kejadian tadi.
            Eun Ji heran dengan nenek ini. Dia nenek ajaib. Tanpa melihat, dia bisa tahu kalau Eun Ji akan kabur, dan dia bisa tiba-tiba kembali seperti semula dengan mengejutkan saat dia saat kondisi sekaratnya.
            Eun Soo berpikir jangan-janagan nenek bisa bangun ketika dia dalam kuburnya. Entah bagaimana dia bisa ditakdirkan untuk bertemu nenek ajaib ini.
            “Tolong jauhkan nenek dari minuman beralkohol. Dia sudah terlalu tua untuk minum-minum,” kata Dokter saat memeriksakan keadaan nenek.
            Setelah selesai memeriksakan nenek yang bernama Kim Mi Young itu Eun Ji membawa nenek pulang.
            “Hei, anak muda, siapa namamu?” tanya nenek saat sampai dirumah.
            “Eun Ji imnida,” jawabnya.
            “A.. Eun Ji, buatkan bubur yang kemarin kau buat!” pinta nenek.
            Eun Ji langsung pergi ke dapur untuk memesan bubur yang kemarin nenek makan. Seperti kemarin, Eun Ji menunggu tukang bubur datang. Setelah datang, dia meghidangkannya pada nenek.
            “Ah.. kau ini. Ini adalah bubur yang ada di kedai bubur yang tak jauh dari sini!” omel nenek.
            Eun Ji terdiam. Dia mulai kikuk. Padahal ini bubur yang sama dengan kemarin. Kenapa nenek baru tahu sekarang? Apa nenek melihat kurir bubur?
            “Itu.. sama dengan bubur kemarin…”
            “Ani,ani, kemarin rasanya beda. KAU MENCOBA MENIPUKU?! DASAR ANAK DURHAKA! TIDAK TAHU SOPAN SATUN!”
            Lagi-lagi Eun Ji dipukuli. Nenek bahkan melempear benda-benda yang ada disekitarnya sehingga Eun Ji berlari keluar.
Kalau bukan orang tua, sudah di lawan. Sayang, ini adalah nenek-nenek. Eun Ji kembali merasa seperti di neraka. Dia sudah merlakan pertandingan balapnya demi nenek tua ini….
            Eun Ji pulang kerumahnya. Minggu depan dia harus ke rumah nenek itu lagi. Akhir pecan yang seharusnya sepeti surga baginya, sekarang malah seperti neraka.
            Singkat cerita, hari demi hari Eun Ji lalui untuk menemani nenek. Yang awalnya dia tidak sabar akan tingkah nenek yang pikun dan sering kali eukulinya, sekarang di sudah bisa menyesuaikan diri dan lebih bersabar.
            “Mi Ra ya! Tolong gendong aku, aku ingin berjallan jalan melihat halaman rumah,” kata nenek pada Eun Ji.
            Lagi-lagi nenek memanggilnya Mi Ra, cucu sematawayang nenek yang sudah meniggal. Eun Ji dengan malas menggendeng nenek dippundaknya untuk berkeliling halamn rumah yang cukup luas.
            “Mi Ra, kau tahu ada seorang anak muda yang seumuran denganmu. Dia datang dan menemani nenek setiap minggu. Walaupun dia tidak bisa measak, tapid ia sebenanya anak yang baik. Mi Ra, kau harus bertemu dengannya. Namanya, Eun Ji,” cerita nenek pada Eun Ji. Nenek lagi-lagi menganggap Eun Ji adalah Mi Ra.
            Cucu sematawayang nenek adalah satu-satunya keluargga nenek yang tersisa seblum Mi Ra meninggal. Mi Ra telah menemani neneknya sampai akhir khayatnya. Sekarang nenek tinggal sendirian dirumah.
            Pernah orang dari dinas sosial ingin membawa nenek ke panti jompo. Karena sudhah tidak adalagi orang yang megurusnya.
 Namun nenek selalu melempari mereka dengan panci-panci yang ada dan perabotan lainnya. Karena nenek bilang, kalau Mi Ra masih bersama dengan nenek. Nenek terkadang masih merasa dan membayangkan kalau Mi Ra bersama dengan nenek.
“Anak muda, kau tahu, dulu taman-taman ini dipenuhi bunga. Aku sering merawatnya. Dilingkungan ini, halaman rumahkulah yang paling bagus. Sayangnya, sekarang sudah tidak lagi—“ nenek bercerita panjang lebar tentang kenangannya dengan taman sekaligurs rumahnya,
Ketika seorang nenek bercerita, ceritanya pasti sangaaat panjang dan lama. Dan diulang-ulang. Halaman rumah pun sudah Eun Ji kelilingi 3 kali sambil menggendong nenek.
Napas Eun Ji sudah tersengal-sengal. Ketika dia berhani, nenek mengatakan,”Jangan berhanti hingga ceritaku selesai!” Padahal, itu sudah kesekian kalinya nenek mengulang ceritanya dari awal.
Tiba-tiba Eun Ji merasakan seuatu yang basah yang engalir dengan hangat dipunggungnya.
“AAAAAA!!!!” Eun Ji berteriak lalu berlari masuk kedalam rumah. “Nenek, kenapa kau mengencingiku?! Aku salah apa padamu shingga kau mengencingiku?!”
“Kenapa kau berani memarahiku!?! Aku tidak kencing! Kau jangan sembarangan!” Nenek memukuli Eun Ji. Dia meringis kesakitan.
“Nenek kalu tidak percaya, lihatlah celana yang kau pakai!” Eun Ji kesal.
Nenek berhenti memukulinya dan melihat celananya. Nenek buru-buru mesuk kamar mandi. Nenek malu. Eun Ji mengetuk pintu dari luar.
“Ya! Pergilah! Aku sudah mengencingimu!”
“Nenek, kau akan berganti dengan apa jika kau tidak membawa celana!?!”
Nenek akhirnya membuka pintu lalu mengambil celananya dengan judesnya dan mengatakan terimakasih. Krena peristiwa itu, Eun Ji terpaks pulang lebih cepat dari biasanya.
***
Pada suatu malam, nenek membuka lemari persembunyiannya. Disana banyak sekali uang. Dan ada beberapa emas batangan. Nenek menuliskan sebuah surat.
Ada seseorang yang lewat dibelakang nenek. Nenek bisa merasakannya. Nenek menyelesaikan suratnya lalu menggenggamnya dan keluar mengikuti orang itu.
“A.. Mi Ra, kau datang?” kata nenek.
Sosok itu mebawa nenek menuju ruang tv. Nenek duduk bersama sosok itu. Nenek tersnyum dengan bahagianya. Tak lama kemudian, nenek mengantuk, dan terlelap.
“Annyeong Eun Ji…” ucap nenek menuju dunia yang lain.
***
Pagi yang cerah. Ini akhir pekan, dia harus menjaga kembali nenek. Eun Ji sudah bangun pagi-pagi sekali untuk membuat bubur dan menyuapi nenek untuk sarapan paginya. Dia bersemangat untuk menunjukkan bubur buatannya sendiri. Pertama, dalam seumur hidupnya.
Eun Ji membuka pintu pagar rumah nenek. Dengan riangnya dia menuju rumah nenek yang dikelilingi halaman yang besar itu.
“Permisi nek…,” Eun Ji mengetuk pintu. “Ini Eun Ji..”
Tidak ada respon dari dalam. Eun Ji mengetuknya sekali lagi. Tidak juga ada respon. Eun Ji memutuskan untuk langsung saja masuk. Mungkin nenek tidak dengar atau masih terlelap.
Eun Ji menemukan nenek dalam keadaan terlelap didepan ruang tv. Eun Ji tersenyum lalu dia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan nenek.
Setelah siap, Eun Ji menghidangkannya didepan nenek. Dia mencoba membangunkan nenek dari tidurnya yang terlihat begitu damai.
“Nek… bangun. Ayo makan bubur buatanku. Aku sudah tidak membelinya di kedai bubur lagi,” kata Eun Ji membangunkan nenek.
Nenek tidak menjawab. Tubuh nenek begitu dingin. Eun Ji mulai khawatir.
“Nek… bangun. Ayo makan buburagar badanmu hangat. Badan nenek dingin sekali…. Dan….. pucat….,” suara Eun Ji mulai lirih. Dia semakin panik. “Nenek… kenapa nenek—“
Eun Ji memeriksa lagi. Lalu dia menangis. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Nenek telah tiada. Eun Ji menangis diatas jasad nenek. Eun Ji melihat sebuah kertas yang tergeletak disamping nenek. Itu sebuah surat.

Semua harta warisanku, rumah ini, dan uang yang ada dibrankas serta saham-sahamku yang ada, aku serahkan sepenuhnya kepada Eun Ji.
Eun Ji, jadilah anak yang baik. Kau adalah anak yang tulus. Maafkan aku jika aku sering memarahimu. Jangan lagi kau bohongi orang tua.
Hiduplah dengan baik Eun Ji….
Kim Mi Young
           
            Surat itu basah dengan air matanya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Selamat jalan nenek…

[THE END]

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FF ini sebagai selingan FF Alter You yang ceritanya udah mulai berat. Maaf ya, kalo ga suka ato gimana. Ada satu FF lagi yang masih coming soon. Ditunggu aja ya. Gamsahamnida^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...