Alone
Halmoni
[One Shoot]
[Cast]
Eun Ji A-Pink
[Rating]
Under
[Genre]
Family, Comedy
[Lenght]
One Shoot
[Dislaimer]
PLEASE DO NOT
COPY PASTE THIS FF. DO NOT CLAIM THIS FF/ COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE YOUR
COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE ARE SOME TYPOS. Gamsahamnida^^
Eun Ji naik keatas mobil. Hari ini
ibunya yang menyetir. Mungkin diantara ratusan kali Eun Ji naik mobil, ini
adalah kali keduanya dia dispoiri oleh ibunya. Eun Ji akan dibawa ke suatu
tempat oleh ibunya.
“Kita mau kemana eomma?” tanya Eun
Ji. Dia sebenarnya agak kesal.
Ibunya hanya tersenyum. Pagi di hari
libur ini dia harus merelakan janjinya untuk bermain bersama teman-temannya di
arena balapan.
Eun Ji akhirnya kena imbasnya. Eun
Ji bukan yeoja yang penurut ataupun
kalem dan terlihat anggun. Gaya jalannya tidak feminin, jam pulangnya pun tak
beraturan. Dia sering keluyuran dan pulang hingga larut malam kadang pagi.
Memang dia sudah besar, tapi sebagai
orang tua, ibu Eun Ji merasa khawatir. Ibu Eun Ji harap dengan memasukkan Eun
Ji pada komunitas miliknya dia akan berubah.
Eun Ji turun dari mobil. Ini rumah
teman ibunya. Bibi Park. Apakah aku
diminta untuk menemani ibu berbincang dengan komunitasnya? Pikir Eun Ji.
Bukan. Kau harus bergabung dalam komunitasnya, Eun Ji.
Eun Ji memberi salam kepada Bibi
Park lalu duduk cukup jauh dari kerumunan ibu-ibu yang berkumpul di ruang tamu.
Bibi Park adalah pemimpin komintas “Teman Orang Tua”. Mereka ramai sekali. Jika
ibu-ibu bertemu, keceriwisan pun muncul.
“Eun Ji, kamu tolong pergi ke alamat
ini.” Bibi Park memberikannya sebuah alamat.
“Untuk apa bibi?”
“Kau akan tahu jika sudah sampai.
Semoga menyenangkan!” kata Bibi Park seraya mengantarkan Eun Ji keluar. Sebenarnya
itu lebih terkesan seperti ‘mengusir’.
Eun Ji hanya menuruti saja apa yang
diakatan Bibi Park kepadanya. Eun Ji berpikir ini lebih baik dari pada dia
harus bertemu dengan ibu-ibu nan ceriwis. Kunci mobil ada di ibunya, Eun Ji
terpaksa menggunakan bus untuk pergi ke alamat tersebut.
Alamatnya ternyata cukup jauh.
Alamatnya menuju pada sebuah rumah yang masih bergayakan rumah tradisional
korea. Halamannya cukup luas. Namun seperti tidak terurus. Eun Ji masuk lalu
mengetuk pintu.
“Permisi,” katanya. Cukup lama, tak
ada yang menjawab. “Permisi…”
Cukup lama tak ada yang menjawab.
“Permisi!” Eun Ji sedikit berteriak.
“……..”
“Permisi!” Eun Ji berbicara lebih
kencang lagi.
“Ya… ya… ya.. Aku mendengarnya!”
seseorang dari dalam membukakan pintu untuknya. “Kau kira aku tuli?!” Dia
seorang nenek-nenek. Sudah cukup tua.
“Ah… Maafkan aku nek, maafkan aku.”
Eun Ji membungkuk minta maaf kepada nenek yang tidak dikenalinya itu.
“Kau siapa?”
“Aku disuruh Bibi Park kesini.”
“Ah.. Park… Kau pasti datang untuk
menemaniku. Ayo masuk!“
“Me.. ne.. ma.. ni?” Eun Ji terpaku
dengan perkataan nenek tadi.
Mimpi apa dia semalam dia harus
menemani nenek-nenek tua. Eun Ji berbalik arah kebelakang dan ingin kabur, dia
sudah melangkahkan kakinya selangkah menjauh dari daun pintu.
“HEI! KAU JANGAN BERUSAHA UNTUK
KABUR!” teriak nenek itu.
Eun Ji menghentikan langkahnya lalu
berbalik kearah seperti semula. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa nenek itu tau
kalau dia kabur sedangkan nenek tersebut sudah jauh masuk kedalam rumah.
Mau tidak mau, daripada dibilang
durhaka, Eun Ji masuk untuk menemani nenek tersebut dengan terpaksa daripada
dia terkena omel ibunya.
Nenek duduk didepan televisi
miliknya. Dia serius menonton dama. Eun Ji duduk cukup jauh dari nenek. Dia
bingung apa yang harus dia lakukan. Mungkin dia bisa melakukan sesuatu agar dia
bisa pulang lebih awal atau apapun yang bisa membebaskan dia dari nenek-nenek
ini.
“Kau lihat apa?! Buatkan aku teh!”
katanya menyuruh Eun Ji.
“Ba.. baik…”
Eun Ji menuju dapur nenek dan
membuatkan nenek teh. Setelah the jadi, Eun Ji menghidangkannya dengan sesopan
mungkin. Nenek melihat teh yang dibuat Eun Ji.
“Mana kuenya? Ambilkan kuenya diatas
meja.”
Eun Ji mengambilkan kue milik nenek.
Eun Ji melayani nenek dengan bermuka masam. Sebenarnya kenapa nenek ini selalu
marah-marah? Apakah dia sedang PMS. -__-“
Eun Ji duduk cukup jauh dari nenek.
Karena bosan, dia mengantuk dan akhirnya ketiduran.
“Tolong pijit bahuku. Bahuku pegal,”
lagi-lagi nenek menyuruh Eun JI. Eun Ji tidak merespon. Dia terlelap dengan
asyiknya.
Nenek berbalik kebelakang. Dia mendekati
Eun Ji lalau memukulnya dan seraya berkata, “Ya! Pijitkan bahuku! Dasar kau
anak yang pemalas!”
“A.. A… SAKIT!” Eun Ji berteriak
kesakitan. Dia baru sadar kalau yang ia teriaki adalah seorang nenek-nenek. Eun
Ji segera berdiri lalu membungkuk meminta maaf pada nenek.
“Aish.. kenapa Woo Ri menyuruhmu
menjagaku hari ini! Kenapa mereka meminta anak muda menjagaku?! Hei! Cepat
pijit bahuku, kenapa kau hanya melihat-lihat?!”
Dengan malas, Eun Ji memijat bahu
nenek. Walaupun sudah dituruti keinginannya, nenek itu masih saja mengomel.
Kadang-kadang omelannya memaki-maki Eun Ji.
Eun Ji terkekang. Dia serasa berada
di neraka. Setelah menyudahi sesi pijit, nenek meminta Eun Ji duduk mendengar
ceritanya semasa muda.
Eun Ji terpaksa duduk. Dia tidak
boleh duduk bersila, melainkan dengan melipat kakinya. Nenek menceritakan
pengalaman hidupnya dari dia kecil hingga sampai sekarang ini. Eun Ji
mendengarkannya hingga kakinya keram.
Bukan lagi keram, melainkan sakit. Karena
duduk mendengarkan cerita dari pagi hingga siang, perut Eun Ji mulai
keroncongan.
“Nenek… maaf meyela pembicaraanmu.
Apakah nenek tidak lapar?”
“Aa… Aku juga merasakan itu ketika
aku lari dari tentara Jepang!”
“Bu.. Bukan, maksudku nenek tidak
mekan siang? Sekarang sudah waktunya.”
“Aa.. benarkah? Kalau begitu tolong
kamu siapkan makanan dan suapi aku!”
Eun Ji terdiam. Dia harus mengurus
makan nenek-nenek ini?
“Kau tunggu apalagi?! Cepatlah!”
Eun Ji segera berdiri menuju dapur.
Dia mencari makanan pa yang bisa dia hidangkan untuk nenek. Tidak ada apa-apa.
Dikulkas pun tidak ada. Memasak? Eun Ji tidak bisa. Apa yang harus dia lakukan?
Eun Ji mengambil handphonenya lalu
menghubungi restoran bubur Korea untuk mengantarkan bubur mereka ke rumah
nenek. Setelah menelpon, Eun Ji duduk didapur menunggu sang kurir mengantarkan
bubur.
“HEI ANAK MUDA.. KENAPA KAU LAMA
SEKALI?!” Nenek tua itu menegurnya.
“Se.. sebentar nek, aku sedang
memasakanya untukmu…”
Eun Ji mulai takut kalau nenek tahu
dia tidak memasak sama sekali dan malah memesan makanan dari luar. Eun Ji
melihat kesekitar. Ada pintu samping. Eun Ji mencoba melihat keluar sambil
menunggu kurir.
Pintu pagar tiba-tiba bergerak.
Dibuka oleh sesorang. Eun Ji menghampirinya dan berharap itu adalah kurir.
Ternyata benar. Eun Ji mengambil makananya dan menyalinnya ke mangkuk lalu
membayar tagihannya.
Sekarang, bubur sudah siap. Eun Ji
menghidangkannya untuk nenek yang tidak dikenalnya itu dengan sesopan mungkin.
“Wa.. harum sekali,” komentar nenek.
Eun Ji mulai menyuapi nenek dan
berkata, “Enak sekali. Aku belum pernah makan bubur seenak ini. Hei anak muda,
ternyata kau pintar juga dalam memasak!”
Eun Ji tersenyum. Sebenarnya dia
ingin tertawa geli karena nenek menganggap kalau ini adalah masakannya. Nenek
memakannya dengan lahap.
Setelah makan siang, nenek mulai
mengantuk dan tertidur didepan tv. Eun Ji terpaksa menggendong nenek menuju
kamarnya. Eun Ji harap, dia sudah bisa pulang sekarang. Eun Ji menelepon Bibi
Park.
“Bibi Park, nenek sudah tidur,
bolehkah aku pulang sekarang?” tanyanya.
“Kau boleh pulang bila malam tiba,”
jawab Bibi Park lalu menutup telpon.
“Yoeobose—“
Eun Ji enarik napas dalam. Ini
neraka. Dia segera mengambil tasnya lalu keluar dari rumah. Dia kabur
“HEI ANAK MUDA! KAU JANGAN BERUSAHA
UNTUK KABUR!!!” Nenek itu berteriak. Nenek tiba-tiba sudah berada didepan
pintu.
Eun Ji meringis. Nenek selalu
mencegahnya untuk keluar dari neraka. Eun Ji menoleh kebelakang lalu berjalan
menuju nenek. Nenek memukulinya dan mengomelinya. Sesekali nenek mengumpat
padanya.
What a bad day.
***
Eun Ji kembali lagi bertemu pada
akhir pekan. Dia harus pergi lagi ke rumah nenek-nenek itu. Nenek yang suka
memarahinya.
Eun Ji pergi ke rumah nenek dengan
membawa mobilnya sendiri. Eun Ji sengaja melambankan mobilnya agar dia bisa
lebih lama sampai ke rumah nenek.
Eun Ji menghela napas panjang saat
sampai didepan pintu.
“Permisi nenek…,” katanya seraya
mengetuk pintu.
Lagi-lagi tak ada yang menjawab. Eun Ji sudah menduga
dia akan disambut dengan omelan nenek.
“Permisi nenek..”
Tak ada yang menjawab. Eun Ji
memutuskan untuk langsung saja masuk ke dalam rumah.
“OMO!” Eun Ji kaget saat melihat
nenek sudah merayap menuju dirinya. “Nenek… baik-baik saja?” Eun Ji menghampiri
nenek dan memeriksa keadaan nenek.
Eun Ji segera menggendong nenek
menuju mobilnya dan membawanya menuju rumah sakit. Eun Ji menancap gas mobilnya
penuh sehingga mobil melaju sangat kencang.
Tiba-tiba kepalanya dijitak.
“HEI! Bawa pelan-pelan!” omel nenek.
Tiba-tiba nenek sudah duduk dengan antengnya.
Eun Ji yang kaget segera mengerem
mobilnya. Ban mobilnya berdecit. Mereka berdua tersandung kedepan. Nenek sekali
lagi memukulinya dan mengomelinya, “Kau ingin membunuhku?! Ha?! Keluar! Cepat
keluar!”
“Ta.. ta.. pi..—“
“Keluar!”
Eun Ji terpaksa keluar dari mobil. Nenek
ikut keluar juga, namun pindah tempat duduk menjadi kurdsi pengemudi. “Hei anak
muda, bagaimana cara engemudiakan mobil ini? Kau tak becus mengemudikannya!”
Eun Ji menahan amarahnya. Dia malah
tertawa geli. Nenek-nenek ini kenapa sok tahu sekali? Eun Ji meminta nenek
pindah kembali ke tempat duduknya.
“Nek, aku mohon nenek pindah saja
dibelakang. Aku berjanji, akan mengemudikan mobil ini pelan-pelan….”
“Ani,
ani, kau membawanya seperti pada karena balap. Apa kau mau mati!?!”
“Jangan khawatir nek, aku akan
membawanya dengan se… baik mungkin. Se pelan mungkin agar kau bisa melihat
pemandangan.”
“Aku juga bisa mengendarai mobil!
Waktu muda dulu aku bekerja di pertambangandan mengendarai truk besar!”
Nenek bersikukuh untuk mengemudiakn
mobil. Eun Soo putus asa. Dia membuka pintu pengemudi lalu menggendong nenek
memindahkannya ke kursi belakang. Nenek memukulnya dan lagi-lagi mengomelinya.
“!@#$%&!!”
“Nenek diam saja, dan lihat
pemandangan kota Seoul,” kata Eun Ji lalu masuk ke kursi pengemudi. “Kapan
terakhir kali nenek berkeliling kota Seoul?”
“Aku sudah lupa,” jawab nenek yang
akhirnya tenang kembali. “Kau jangan menganggap jalanan ini adalah arenamu!”
Eun Ji melihat nenek lewat kaca
spionnya. Dia tersenyum. Eun Ji membawa
nenek menuju rumah sakit. Dia hanya ingin memastikan kalau nenek tidak
kenapa-napa ketika kejadian tadi.
Eun Ji heran dengan nenek ini. Dia
nenek ajaib. Tanpa melihat, dia bisa tahu kalau Eun Ji akan kabur, dan dia bisa
tiba-tiba kembali seperti semula dengan mengejutkan saat dia saat kondisi
sekaratnya.
Eun Soo berpikir jangan-janagan
nenek bisa bangun ketika dia dalam kuburnya. Entah bagaimana dia bisa
ditakdirkan untuk bertemu nenek ajaib ini.
“Tolong jauhkan nenek dari minuman
beralkohol. Dia sudah terlalu tua untuk minum-minum,” kata Dokter saat
memeriksakan keadaan nenek.
Setelah selesai memeriksakan nenek
yang bernama Kim Mi Young itu Eun Ji membawa nenek pulang.
“Hei, anak muda, siapa namamu?”
tanya nenek saat sampai dirumah.
“Eun Ji imnida,” jawabnya.
“A.. Eun Ji, buatkan bubur yang
kemarin kau buat!” pinta nenek.
Eun Ji langsung pergi ke dapur untuk
memesan bubur yang kemarin nenek makan. Seperti kemarin, Eun Ji menunggu tukang
bubur datang. Setelah datang, dia meghidangkannya pada nenek.
“Ah.. kau ini. Ini adalah bubur yang
ada di kedai bubur yang tak jauh dari sini!” omel nenek.
Eun Ji terdiam. Dia mulai kikuk.
Padahal ini bubur yang sama dengan kemarin. Kenapa nenek baru tahu sekarang?
Apa nenek melihat kurir bubur?
“Itu.. sama dengan bubur kemarin…”
“Ani,ani, kemarin rasanya beda. KAU
MENCOBA MENIPUKU?! DASAR ANAK DURHAKA! TIDAK TAHU SOPAN SATUN!”
Lagi-lagi Eun Ji dipukuli. Nenek
bahkan melempear benda-benda yang ada disekitarnya sehingga Eun Ji berlari
keluar.
Kalau
bukan orang tua, sudah di lawan. Sayang, ini adalah nenek-nenek. Eun Ji kembali
merasa seperti di neraka. Dia sudah merlakan pertandingan balapnya demi nenek
tua ini….
Eun Ji pulang kerumahnya. Minggu
depan dia harus ke rumah nenek itu lagi. Akhir pecan yang seharusnya sepeti
surga baginya, sekarang malah seperti neraka.
Singkat cerita, hari demi hari Eun
Ji lalui untuk menemani nenek. Yang awalnya dia tidak sabar akan tingkah nenek
yang pikun dan sering kali eukulinya, sekarang di sudah bisa menyesuaikan diri
dan lebih bersabar.
“Mi Ra ya! Tolong gendong aku, aku
ingin berjallan jalan melihat halaman rumah,” kata nenek pada Eun Ji.
Lagi-lagi nenek memanggilnya Mi Ra,
cucu sematawayang nenek yang sudah meniggal. Eun Ji dengan malas menggendeng
nenek dippundaknya untuk berkeliling halamn rumah yang cukup luas.
“Mi Ra, kau tahu ada seorang anak
muda yang seumuran denganmu. Dia datang dan menemani nenek setiap minggu.
Walaupun dia tidak bisa measak, tapid ia sebenanya anak yang baik. Mi Ra, kau
harus bertemu dengannya. Namanya, Eun Ji,” cerita nenek pada Eun Ji. Nenek
lagi-lagi menganggap Eun Ji adalah Mi Ra.
Cucu sematawayang nenek adalah
satu-satunya keluargga nenek yang tersisa seblum Mi Ra meninggal. Mi Ra telah
menemani neneknya sampai akhir khayatnya. Sekarang nenek tinggal sendirian
dirumah.
Pernah orang dari dinas sosial ingin
membawa nenek ke panti jompo. Karena sudhah tidak adalagi orang yang
megurusnya.
Namun nenek selalu melempari mereka dengan
panci-panci yang ada dan perabotan lainnya. Karena nenek bilang, kalau Mi Ra
masih bersama dengan nenek. Nenek terkadang masih merasa dan membayangkan kalau
Mi Ra bersama dengan nenek.
“Anak
muda, kau tahu, dulu taman-taman ini dipenuhi bunga. Aku sering merawatnya.
Dilingkungan ini, halaman rumahkulah yang paling bagus. Sayangnya, sekarang
sudah tidak lagi—“ nenek bercerita panjang lebar tentang kenangannya dengan
taman sekaligurs rumahnya,
Ketika
seorang nenek bercerita, ceritanya pasti sangaaat panjang dan lama. Dan
diulang-ulang. Halaman rumah pun sudah Eun Ji kelilingi 3 kali sambil
menggendong nenek.
Napas
Eun Ji sudah tersengal-sengal. Ketika dia berhani, nenek mengatakan,”Jangan
berhanti hingga ceritaku selesai!” Padahal, itu sudah kesekian kalinya nenek
mengulang ceritanya dari awal.
Tiba-tiba
Eun Ji merasakan seuatu yang basah yang engalir dengan hangat dipunggungnya.
“AAAAAA!!!!”
Eun Ji berteriak lalu berlari masuk kedalam rumah. “Nenek, kenapa kau
mengencingiku?! Aku salah apa padamu shingga kau mengencingiku?!”
“Kenapa
kau berani memarahiku!?! Aku tidak kencing! Kau jangan sembarangan!” Nenek
memukuli Eun Ji. Dia meringis kesakitan.
“Nenek
kalu tidak percaya, lihatlah celana yang kau pakai!” Eun Ji kesal.
Nenek
berhenti memukulinya dan melihat celananya. Nenek buru-buru mesuk kamar mandi.
Nenek malu. Eun Ji mengetuk pintu dari luar.
“Ya!
Pergilah! Aku sudah mengencingimu!”
“Nenek,
kau akan berganti dengan apa jika kau tidak membawa celana!?!”
Nenek
akhirnya membuka pintu lalu mengambil celananya dengan judesnya dan mengatakan
terimakasih. Krena peristiwa itu, Eun Ji terpaks pulang lebih cepat dari
biasanya.
***
Pada
suatu malam, nenek membuka lemari persembunyiannya. Disana banyak sekali uang.
Dan ada beberapa emas batangan. Nenek menuliskan sebuah surat.
Ada
seseorang yang lewat dibelakang nenek. Nenek bisa merasakannya. Nenek
menyelesaikan suratnya lalu menggenggamnya dan keluar mengikuti orang itu.
“A..
Mi Ra, kau datang?” kata nenek.
Sosok
itu mebawa nenek menuju ruang tv. Nenek duduk bersama sosok itu. Nenek tersnyum
dengan bahagianya. Tak lama kemudian, nenek mengantuk, dan terlelap.
“Annyeong
Eun Ji…” ucap nenek menuju dunia yang lain.
***
Pagi
yang cerah. Ini akhir pekan, dia harus menjaga kembali nenek. Eun Ji sudah
bangun pagi-pagi sekali untuk membuat bubur dan menyuapi nenek untuk sarapan
paginya. Dia bersemangat untuk menunjukkan bubur buatannya sendiri. Pertama,
dalam seumur hidupnya.
Eun
Ji membuka pintu pagar rumah nenek. Dengan riangnya dia menuju rumah nenek yang
dikelilingi halaman yang besar itu.
“Permisi
nek…,” Eun Ji mengetuk pintu. “Ini Eun Ji..”
Tidak
ada respon dari dalam. Eun Ji mengetuknya sekali lagi. Tidak juga ada respon.
Eun Ji memutuskan untuk langsung saja masuk. Mungkin nenek tidak dengar atau
masih terlelap.
Eun
Ji menemukan nenek dalam keadaan terlelap didepan ruang tv. Eun Ji tersenyum
lalu dia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan nenek.
Setelah
siap, Eun Ji menghidangkannya didepan nenek. Dia mencoba membangunkan nenek
dari tidurnya yang terlihat begitu damai.
“Nek…
bangun. Ayo makan bubur buatanku. Aku sudah tidak membelinya di kedai bubur
lagi,” kata Eun Ji membangunkan nenek.
Nenek
tidak menjawab. Tubuh nenek begitu dingin. Eun Ji mulai khawatir.
“Nek…
bangun. Ayo makan buburagar badanmu hangat. Badan nenek dingin sekali…. Dan…..
pucat….,” suara Eun Ji mulai lirih. Dia semakin panik. “Nenek… kenapa nenek—“
Eun
Ji memeriksa lagi. Lalu dia menangis. Air matanya sudah tidak bisa dibendung
lagi. Nenek telah tiada. Eun Ji menangis diatas jasad nenek. Eun Ji melihat
sebuah kertas yang tergeletak disamping nenek. Itu sebuah surat.
Semua harta warisanku, rumah ini, dan uang
yang ada dibrankas serta saham-sahamku yang ada, aku serahkan sepenuhnya kepada
Eun Ji.
Eun Ji, jadilah anak yang baik. Kau adalah anak
yang tulus. Maafkan aku jika aku sering memarahimu. Jangan lagi kau bohongi
orang tua.
Hiduplah dengan baik Eun Ji….
Kim Mi Young
Surat
itu basah dengan air matanya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Selamat
jalan nenek…
[THE END]
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FF ini sebagai selingan FF Alter You yang ceritanya udah mulai berat. Maaf ya, kalo ga suka ato gimana. Ada satu FF lagi yang masih coming soon. Ditunggu aja ya. Gamsahamnida^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar