26 Agustus 2014

[FF] Goodbye (Chapter. 1)

GOODBYE


[Chapter 1]


[Cast]
L  Infinite ; Eun Soo/You (OC)
[Rating]
PG-13
[Genre]
Romance, Sad, Angst, Tragedy
[Lenght]
Chaptered
[Dislaimer]
PLEASE DO NOT COPY PASTE THIS FF. DO NOT CLAIM THIS FF/ COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE YOUR COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE ARE SOME TYPOS. Gamsahamnida^^


           Pistol dikeluarkan dari saku sebelah kiri celana jeans. Peluru sudah tersedia disana. Masih hangat, tinggal ditembak. Jika salah sedikit saja, aka peluru akan menuju sasarannya.  Pistol itu diarahkan tepat pada target.
            BANG! Peluru ditembakkan. Timah yang pasih panas itu langsung menebus kulit, merobeknya dan tembus menuju jantung. Sang sasaran langsung jatuh tanpa sempat mengucapkan kata-kata terakhirnya lagi.
            Sang pembunuh menaruh pistol didekat korban seolah-olah korban yang mebunuh dirinya sendiri. Sebelumnya, dia membuat bekas sidik jari korban pada gagang pistol agar alibi semakin kuat.
            Sang pembunuh keluar melalui jendela sebelum kerumunan orang datang. Tugas diselesaikan dengan bersih. Sang pembunuh pulang ke markasnya untuk melaporkan tugasnya pada bosnya.
***

            “PEMIMPIN PERUSAHAAN BESAR KOREA DITEMUKAN TEWAS DIKAMARNYA. DIDUGA BUNUH DIRI” Begitulah bunyi dari headline koran-koran pagi ini. Beberapa stasiun televisi dan radio juga memberitakan hal yang sama.
            Eun Soo melihat berita kejadian semalam itu di tv. Eun Soo terdiam. Dia memasang muka datar sambil menyeruput teh paginya. Lalu berkata dalam hatinya, “Tuhan, hidup keras.”
Dia sudah hampir seminggu tidak menemui ibunya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaanya  yang kata ibunya sebagai penjaga toserba 24 jam.
Eun Soo berpakaian rapi hari ini bukan untuk pergi ke gereja. Namun menjemput ibunya di gereja. Hari Minggu seperti ini, biasanya ibunya dan dan keluarga besar majikannya mengunjungi gereja.
Walaupun ini hari Minggu, Eun Soo tak ada niat sama sekali untuk masuk ke gereja. Dia malu pada Tuhan. Dia terlalu banyak dosa. Dia sudah tak suci lagi untuk memasuki gereja, pikirnya seperti itu.
Layaknya seperti perempuan lainnya, Eun Soo memakai dress floral yang panjangnya sedikit diatas lutut. Rambutnya tidak panjang, hanya sampai di bawah telinga.  Sebenarnya, dia terlihat cantik.
Saat sampai di gereja, Eun Soo menunggu didepan gereja. Dia mengintip sedikit kedalam. Ada ibunya beserta keluarga majikannya. Pendeta sedang memimpin doa para jemaat.
Eun Soo hanya terdiam melihat para orang-orang berdoa. Selesai berdoa dengan khusyuk, para jemaat keluar. Eun Soo bersiap-siap menemui ibunya.
            “Eomma,” panggil Eun Soo.
            “Astaga. Kenapa kau ada disini?” tanya Ibunya.
            “Tentunya untuk berdoa.”
            Majikan ibunya menyela pembicaraan mereka dengan menyuruh mereka segera naik ke mobil. Seorang laki-laki muda lewat dibelakang ibu Eun Soo, membuat perhatiannya sedikit teralihkan.
            “Eomma, apakah dia tuan muda yang kuliah di Inggris itu?”
            “Nde. Ayo, segera naik ke atas mobil.”
            Ini bukan kali pertamanya Eun Soo mengunjungi ibunya. Majikannya tahu kalau Eun Soo adalah anak dari pelayan mereka. Eun Soo biasanya jika punya waktu luang dia akan membantu beberapa pekerjaan ibunya.
            Sesampainya dirumah, Eun Soo membantu ibunya dan beberapa pelayan lain untuk menghidangkan makan siang. Setelah makan siang siap, para pelayan menghidangkannya satu persatu.
            “Eun Soo, tolong kau panggil tuan muda diatas,” pinta Nyonya besar.
            “Maaf, dimana kamarnya?”
            “Kamar setelah kamarku.”
            Eun Soo segera melakukan apa yang diperintahkan oleh nyonya besar. Eun Soo langsung mengerti siapa yang dimaksud dengan tuan muda. Seorang namja yang tadi dia lihat ketika di gereja.
            “Permisi tuan, makan siang sudah siap…,” kata Eun Soo sambil mengetuk pintu.
            “Nde!” sahutnya dari dalam.
            Eun Soo langsung pergi menuju kebawah. Selang 5 detik kemudian, tuan muda keluar dari kamarnya. Dia menyadari suatu kejanggalan pada pelayannya. Kenapa dia terlihat begitu muda?
            “Permisi,” kata tuan muda..
            Eun Soo berbalik. Tuan muda terdiam sejenak. Benar dugaannya. Apakah dia pelayan baru disini? Rasanya tidak mungkin. Mana ada wanita semuda dan secantik dia menjadi pelayan.
            “Ada apa?”
“Kau siapa?” tanyanya.
            “Aku anak dari bibi Park. Ada yang bisa aku bantu, tuan?”
            “A.. ani, ani.”
            Eun Soo memohon diri lalu kembali ke dapur.  Ibunya sedang membereskan beberapa peralatan memasak yang dipakai tadi. Eun Soo ikut meringankan perkerjaan ibunya.
            Makan siang selesai. Piring diangkat kedapur untuk dicuci. Tak banyak piring yang harus dicuci karena penghuni rumah hanya sedikit: tuan besar, nyonya besar, nona, dan dua tuan muda. Lagipula, mereka makan dengan porsi yang sedikit.
            Ponsel Eun Soo berdering disela kegiatan mengelap piringnya. Eun Soo menjedai kegiatannya itu lalu mengangkat telepon.
            “Eomma, mianhae, aku ada urusan mendadak. Bosku memanggilku. Aku tidak bisa membantumu lebih lama lagi. Tak apa kan?” tanya Eun Soo dengan sopannya setelah menelpon.
“Kalau begitu cepat pergilah. Jangan sampai kau dipecat gara terlambat. Ibu bisa melakukannya sendiri. Jangan khawatir,”jawab ibunya.
Eun Soo mengambil tas selempangnya lalu memohon diri pada ibunya. Eun Soo menyusuri halaman rumah majikan ibunya yang begitu besar. Rasanya terlalu jauh bila ingin menuju ke gerbang.
“Hei kau!” teriak seseorang.
Eun Soo mendengarnya namun tidak ingin berbalik. Karena dia berpikir kalau itu bukan dia.
“Hei kau yang berbaju biru,” suara itu semakin dekat dengannya. Tepat dibelakangnya.
Suara tuan muda. Eun Soo mengenalinya. “Ada apa?”
“Bisakah kau membuatkanku jus limau dingin?”      
“Maaf tuan, saya sedang terburu-buru.” Eun Soo memberikan hormat lalu berbalik.
Tangan Eun Soo ditahan oleh tuan muda. “Setidaknya aku tahu namamu. Siapa namamu?”
“Eun Soo. Park Eun Soo.”
Tuan muda melepaskan pegangannnya lalu Eun Soo pergi. Tuan muda bergumam tak jelas. Dia sedang berusaha mengingat-ngingat nama Eun Soo. Dia lalu tersenyum kecil dan segera kembali ke rumah.
Sebelum Eun Soo pergi ke tempat kerjanya dia singgah ke rumah untuk berganti pakaian lalu segera pergi ke tempat kerjanya. Bukan, bukan, maksudku, menghadap pada bosnya.
Tempat kerja Eun Soo tidak tentu, bisa berpindah-pindah. Dia selalu memakai masker dan sarung tangan ketika bekerja. Acapkali dia menyamar. Sejujurnya, ini bukanlah pekerjaan yang umum untuk seorang wanita.
Perjalanan menuju bosnya memakai bis lalu disambung dengan berjalan kaki selama 10 menit,. Agak jauh memang. Sedikit.. terpencil. Sebuah tempat bekas container kapal yang dijadikan rumah itu beridiri diantara beberapa rumput-rumput liar. Eun Soo masuk kedalamnya.
“Kenapa kau lama sekali?” pertanyaan itu langsung menyambutnya ketika masuk.
“Maafkan aku.”
Beberapa rekan kerja Eun Soo hanya menyeringai. Sebenarnya mereka agak mencibir. Eun Soo adalah satu-satunya perempuan disini. Bosnya melemparkan sebuah Koran kehadapannya. Topic hangat pagi ini: DIREKTUR SALAH SATU PERUSAHAAN BESAR KOREA DITEMUKAN TEWAS DIKAMARNYA, DIDUGA KARENA BUNUH DIRI.
Bosnya yang duduk dengan sepuntung rokok yang dihisapnya itu tersenyum. “Kerja bagus,” katanya. Dia menghisap rokoknya lagi dan berkata. “Jung Tae, jelaskan.”
Anak buah yang bernama Jung Tae itu mengangguk. Lalu membuka suara, “Kita mendapat telepon dari klien kita. Dia menyuruh kita untuk membereskan pewaris perusahaan Miracle selanjutnya..”
Eun Soo tak bergeming. Dia tak meberi tanggapan. Dia hanya berdiri menunduk mendengarkan titah sang raja. Dia tak berani bersuara. Didalam hatinya, dia memohon ampun berulang kepada Tuhan.
“Dua kali lipat bayaran tertinggi yang pernah kita dapat. Bos akan menyerahkan seperempatnya kepadamu jika kamu berhasil.”
Jung Tae tak bersuara lagi setelah itu. Cukup lama dia terdiam, lalu sang bos mencodongkan dirinya kedepan. “Tak berhasil? Bayarlah ongkosnya dengan nyawamu, atau cacat.”
Eun Soo tak menginterupsi perkataan bosnya tadi. Sudah konsekuensi dari awal dalam perkerjaan ini. Sudah biasa, Eun Soo tak perlu lagi menelan ludah. Raut mukanya datar, dia terlihat tegar. Hatinya terus meminta ampunan pada Tuhan.
“Kau diberi waktu sampai akhir tahun ini. Mengerti?”
“Mengerti.”
Jung Tae merogoh saku dalam tuxedo hitamnya. Jung Tae yang selalu setia seperti anjing peliharaan bosnya itu selalu berpakaian necis. Siapa sangka dibalik penampilannya ala kantoran itu, dia sebenarnya bekerja ‘kotor’.
Jung Tae menyerahkan sebuah foto pada Eun Soo. “Targetmu.”
Eun Soo mengambilnya dan hanya melihatnya sekilas lalu dia simpan dibalik jaket hitamnya.
“Kau boleh pergi. Waktumu dimulai hari ini. Semakin cepat semakin baik.”
Eun Soo memohon diri lalu berjalan keluar. Mukanya datar tanpa perasaan kaget sedikit pun. Ya, dia tahu dimana itu perusahaan Miracle. Sbuah perusahaan besar dan ternama di Korea dimana dulu ayahnya bekerja sebagai karyawan disana.
Eun Soo berjalan menuju halte bus untuk menaiki bus menuju rumahnya. Bus datang setelah dia menunggu 15 menit bersama bebrapa penumpang lainnya. Eun Soo duduk menyendiri di dekat jendela. Di pojok.
Bus mulai berjalan ketika peumpang sudah naik. Eun Soo masih memasang muka datar. Tak ada ekspresinya kaget akan tugasnya tadi, dan apa resikonya jika ia tak bisa menjalankannya dengan tuntas. Eun Soo memandang kosong keluar jendela.
Dia membuka topi dan maskernya. Ini keputusannya dari awal, memepertaruhakan nyawanya demi menyambung hidup. Setidaknya dia sudah bisa membayar seperempat hutang-hutang keluarganya di bank semenjak dia bekerja pada bosnya.
Jung Tae yang memperkenalkannya akan pekerjaan kotor ini. Dia mungkin akan tinggal dijalanan jika Jung Tae tidak meberikan pekerjaan untuknya saat itu. Dia hampir diusir dari rumah sewanya.
Eun Soo ingat seusuatu. Dia merogoh saku dalam jaketnya. Foto targetnya. Tangannya terasa berat untuk mengeluarkan foto tersebut. Siapa lagi orang yang akan mati ditangannya? Jika bukan karena hutang yang mengahantuinya di bank, dia tak akan sanggup melakukan ini.
Eun Soo cukup terkejut ketika melihat targetnya. Entah, mungkin Tuhan mungkin memberinya jalan untuk melakukan pekerjaannya kali ini. Eun Soo memegang foto orang itu, lalu tertawa. Tertawa dengan rasa bersalahnya, tertawa akan kebetulan yang terjadi ini.
Eun Soo masuk ke rumahnya dan merebahkan dirinya dilantai. Eun Soo melihat langit-langit runahnya dengan pandangan kosong. Dia belum ingin melakukan pekerjaannya hari ini. Baru saja kemarin dia membunuh orang.
Eun Soo memejamkan matanya, lalu menaghela napas panjang. Berat. Haruskah dia membayar hutang keluarganya dengan nyawa orang sebagai gantinya? Eun Soo membuka matanya. Dia mendapatkan ide.
***

Ini hari Senin, dimana para penghuni rumah majikan ibu Eun Soo sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.  Tuan besar & dua tuan muda sedang pergi mengurus perusahaan. Ibu mereka sedang meremajakan diri.
Eun Soo mengunjungi ibunya untuk minggu pertama di bulan baru ini. Eun Soo membawa koper menuju rumah besar itu. Eun Soo masuk lewat pintu belakang, dan langsung mencari ibunya. Ibuny aternyata sedang berada di halaman. Ibu sedang menyirami bunga-bunga yang dengan telaten dirawatnya.
“Eomma”
“Omo.. kau mengagetkanku. Kau selalu mebuatku kaget. Kenapa kau ada disini? Kau tidak bekerja?”
Eun Soo menyegir kuda pada ibunya. Lalu dia menunduk. Ibu mematikan keran air lalu mengajaknya duduk disalah satu bangku taman yang ada.
“Ada apa sebenarnya? Ceritakan padaku.”
Eun Soo terdiam sejenak. Dia menelan ludahnya. Lalu berkata, “Aku… dipecat dari pekerjaanku. Dan, aku diusir dari rumah sewaan karena belum mebayar uang sewa Selma 4 bulan terakhir….”
“Apa salah yang kau perbuat hingga kau  dipecat?” Ibu tak bisa enyembunyikan perasaan kecewanya pada Eun Soo.
“Aku tak tahu. Toserba itu mungkin sudah akan ditutup. Omsetnya enurun. Mungkin mereka memecatku untuk mengurangi pengeluaran.”
“Apakah gajimu terlalu kecil hingga kau diusir dari rumah?”
“Entah. Harga barang akhir-akhir ini naik. Gajiku terlalu kecil untuk menutupi lubang (hutang) dan kebutuhan sehari-hari.” Eun Soo terdia cukup lama. “Eomma, bolehkah aku tinggal disini sampai aku mendapatkan pekerjaan? Aku tidak tahu harus tinggal dimana lagi…”
“Ibu tak tahu Eun Soo..”
“Eomma, tolong kau bicarakan hal ini kepada majikanmu.”
“Jika dia pulang, aku akan mencobanya.”
Eun Soo menghela napas. Dia sebenarnya tak tega mengatakan hal ini kepada ibunya. Eun Soo tidak ingin membebani ibunya. Beberapa bulan kedepan, ibunya tak perlu khawatir lagi, sudah ada seperempat keuntungan bosnya yang dikasih padanya nanti, pikirnya.
Eun Soo masuk kedalam rumah setelah selesai menggantikan tugas ibunya menyiram tanaman. Eun Soo lalu menuju dapur membantu ibunya memasak makanan. Sementara ibunya sedang bernegosiasi dengan majikannya perihal kedatangan Eun Soo.
Eun Soo lagi-lagi meminta ampun kepada Tuhan. Namun bayaran yang besar menantinya. Dengan bayaran itu, dia sudah bisa membereskan hutang-hutang keluarganya. Jika hutang-hutang keluarganya sudah beres, Eun Soo akan keluar dari pekerjaan keji ini.
Ibu kembali kedapur menemui Eun Soo dan member isyarat ‘oke’ padanya. Eun Soo tersenyum. Dia dan ibunya lalu melanjutkan kerja menyiapkan makan siang.
                Bibi Han melayani penghuni rumah makan siang. Tuan besar dan para tuan muda menyempatkan diri untuk pulang makan siang bersama. Mungkin ada hal yang perlu dibicarakan.
                Eun Soo menigintip sedikit dari dapur ketika mereka makan.  Dia hanya ingin mengecek targetnya. Eun Soo lagi-lagi menhela napas. Dia terlalu banyak menghela napasnya selama ini. Terlalu berat.
                Eun Soo belum ingin melancarkan aksinya saat ini. Terlalu dini, terlalu cepat dicurigai. Dia tidak boleh bertindak gegabah. Salah sedikit, maka dia akan ketahuan. Pekerjaannya menuntutnya untuk memberikan hasil yang sehalus mungkin tanpa ada bekas.
Siang hari setelah makan siang rumah kembali sepi. Tugas-tugas rumah tangga telah selesai. Para asisten rumah tangga yang ada mencari rehat sedikit sebelum sore datang dan bersiap untuk menyiapkan makan malam.
Sebelum Eun Soo membunuh sang target, Eun Soo ingin mendekatinya. Target itu berada satu rumah dengannya. Setidaknya dia mempunyai peluang yang lebih besar untuk melancarkan aksinya. jika dia membunuhnya sekarang, rasanya terlalu cepat dan nama ibunya akan tercemar.
Ibu merapikan kamar yang ditempatinya bersama Eun Soo. Ibu mengangkat tas ransel besar milik Eun Soo. Kelihatannya dari luar tak ada isi, namun ketika diangkat terasa berat. Ibu menguncang-guncangkan tas Eun Soo. Karena penasaran, ibu membuka resleting tas.
“Eomma!” Eun Soo tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
“Wae?”                                        
                (To Be continued)

-----------------------------------------------
Gimana FF-nya? Alter You tahan dulu ya :3

1 komentar:

  1. Ayayayaaa typo masih betebaran nak, lebih teliti ya ngetiknya. Bagus bagus, aku penasaran targetnya itu tuan muda atau tuan besar :3

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...