Alter You
[CHAPTER 4]
[Cast]
Krystal
JungF(X)
Kai
EXO
Minho
SHINee
[Rating]
PG-13
[Genre]
Mystery
– Physycology - Love
[Length]
Chaptered
[Dislaimer]
PLEASE
DO NOT COPY PASTE THIS FF. DO NOT CLAIM THIS FF/ COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE
YOUR COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE ARE SOME TYPO(S). Gamsahamnida^^
“Siapa nama jenazah ini?” tanya suster.
“Krystal Jung,” jawab Kai
“Jessica Jung,” jawab Minho serempak dengan
Kai.
Suster menatap bingung pada mereka berdua.
“Jessica,” jawab Minho.
“Krystal,” jawab Kai.
Suster semakin tidak mengerti.
“Kami tidak tahu,” jawab Kai pasrah.
Suster merasa kedua pria yang berada didepannya
sudah gila. Mungkin cukup syok karena kematian wanita yang mereka bawa. Minho
tak bergeming.
“Tolong periksa saja sidik jarinya,” imbuh
Minho.
“Baiklah,” jawab suster.
Mereka
berdua tetap berpendirian teguh dengan siapa wanita yang dibawa mereka. Krystal
atau Jessica? Kai menganggapnya Krystal, tapi Minho menganggapnya Jessica. Kai
mencoba mengingat siapa saja keluarga terdekat Krystal.
Dia
baru ingat kalau Krystal adalah yatim piatu. Minho menghubungi teman terdekatnya
yang mengenal Jessica: Sulli. Kedua pria ini tertegun dikoridor rumah sakit.
Mereka dibawa oleh perasaan antara terpukul sedih dan kebingungan.
Tak
lama kemudian Sulli datang dengan mata
yang cukup sembab. Suster yang bertanya pada Kai dan Minho tadi, datang pada
saat yang bersamaan.
“Bagaimana
suster?” tanya Minho.
“Dia Krystal Jung. Lahir pada tanggal 24-10-94.”
Sulli dan Minho terbelalak. Kai melihat Minho
dan Sulli. Mereka kaget. Bagaimana dia itu Krystal? Lalu, siapa Jessica? Kai
cukup lega karena dia memang Jessica.
Suster meminta Kai mengikutinya untuk
mengurusi beberapa hal. Minho duduk di kursi rumah sakit. Dalam kepalanya
banyak sekali pertanyaan mengenai siapa itu Jessica. Tiba-tiba Minho tertawa menyeringai. Sulli
yang duduk disampingya bergidik ngeri.
Minho mendapatkan satu jawaban: Krystal
pembohong. Dia berbohong menjadi Jessica.
Sekarang asumsi Minho mengenai Jessica lengkap sudah. Minho beranjak
dari tempat duduknya meninggalkan Sulli.
Dia kecewa akan kenyataan. Didalam dirinya
terjadi perang perasaan. Dia bingung antara rasa cinta dan benci yang
dimilikinya terhadap Jessica.
***
Sepi. Hanya Kai dan Sulli yang duduk di
pemakaman Krystal. Mereka berdua menunduk. Ya, masih dalam duka. Rasanya baru
saja mereka mengenal Krystal namun dia
sudah meninggalkan mereka.
“Kenapa Minho tidak datang?” tanya Kai.
“Aku tak tahu,” jawab Sulli singkat. Lalu tak
lama kemudian dia membuka mulutnya, “Aku ingin menanyakan sesuatu.”
“Silahkan.”
“Kenapa papan namanya Krystal? Bukan Jessica?”
Ternyata Sulli masih belum tahu kalau Jessica sebenarnya adalah Krystal.
“Dia bukan Jessica, dia Krystal. Tidak ada
yang bernama Jessica.”
Sulli tak mengerti. Minho terpaksa
menceritakannya dari kejadian saat pesta Halloween hingga terakhir dia
meninggal. Sulli diam beberapa saat.
Cukup lama. Dia berusaha mencerna apa yang diceritakan Kai. Membingungkan
memang.
Sekarang dia mengerti, kalau Jessica dan
Krystal adalah orang yang sama. Namun, diantara Jessica dan Krystal sendiri,
memiliki kepribadian yang terbalik. Berbeda cukup jauh.
“Apakah, kau berteman dengan Jessica sudah
sejak lama?”
“Baru-baru ini. Ketika dia bekerja denganku
ditempat yang sama.”
Seorang
wanita meletakkan sepatunya dipintu masuk. Dia dengan busana serba hitam, dan
kacamata hitam. Dia langsung memberikan penghormatan didepan altar Krystal lalu
duduk menangis.
Kai
dan Sulli saling bertatapan. Siapa dia? Setelah wanita itu menangis cukup lama,
dia duduk dimeja yang disediakan.
“Maaf,
kalau boleh tahu, anda siapanya Krystal?” tanya Sulli pada wanita misterius
itu.
“Aku,
kakak sepupu Krystal,” jawabnya.
Sulli
merasa tak percaya. Setahunya baik
Jessica ataupun Krystal sudah tak memiliki keluarga lagi. Kalau adapun, mungkin
sudah lost contact dengannya.
“Apa
anda yakin ini Krystal yang anda maksud?”
Wanita
itu membuka kacamata hitamnya. “Krystal Jung. Ya, dia sepupuku. Kami berdua
cukup dekat.” Wanita itu menuangkan anggur beras digelas kecil, lalu
meminumnya. “Aku, Tiffany.”
Kai
duduk disamping Sulli, bergabung dengan obrolan mereka berdua. Mereka
berbincang cukup lama. Lalu, Kai menanyakan satu hal yang mengganggu pikirannya
beberapa hari ini.
“Apakah
kau kenal, Tuan Kim?” tanya Kai.
“Tuan
Kim..” Tiffany berusaha mengingatnya. “Kalau tidak salah, Tuan Kim adalah
tetangga sebelah rumahku waktu aku tinggal bersama dengan Krystal. Waktu itu,
dia dan aku masih sekolah dasar.”
“Apakah
Tuan Kim pernah melakukan sesuatu terhadap Krystal?”
15 tahun yang lalu….
Krystal dan Tiffany ditinggal berdua oleh orang
tua Tiffany. Musim panas membuat mereka berdua memakai baju yang pendek didalam
rumah. Krystal dan Tiffany sedang membaca buku dengan posisi tengkurap.
Tiffany
tiba-tiba merasa sakit perut, dia menuju kamar mandi. Dia sembelit. Sepertinya
dia salah makan ketika di sekolah. Pintu depan dibiarkan terbuka. Mereka lupa
menutupnya. Tiffany berada cukup lama dalam toilet. Saat dia keluar, dia
melihat Krystal tak ada.
Layaknya
anak-anak, mereka takut bila tinggal sendirian di rumah. Tiffany mencari-cari
Krystal keseluruh penjuru rumah. Hingga langkahnya terhenti pada gudang. Tiffany
melihat pintu gudang terbuka sedikit.
Dia
memelankan langkahnya, berusaha mengangetkan Krystal yang diduganya sedang
berada didalam. Dia berusaha mengintip
sedikit sebelum mengagetkannya. Tiffany terbelalak.
Krystal
sudah bersama seorang pria didalam. Pria itu, Tuan Kim, tetangganya. Krystal
menutup dirinya dengan kain yang sebelumnya digunakan untuk menutup
barang-barang digudang.
Mata
Krystal menyiratkan ketakutan. “Jangan tuan Kim… Jangan…” kata Krystal lirih.
Tiffany segera berlari keluar meminta bantuan. Orang-orang yang lewat merespon
permintaan tolong Tiffany. Mereka masuk kedalam rumah dan memergoki Tuan Kim
hampir melakukan pelecehan seksual terhadap Krystal. Semenjak kejadian itu,
Krystal dibawa ke panti asuhan. Sedangkan Tuan Kim kabur melarikan diri.
Kai
mengepalkan tangannya. Geram. Sulli melihat Kai dengan pandangan prihatin, lalu
mengalihkannya pada foto Krystal. Tiffany melihat kepalan tangan Kai.
“Semenjak
itu, aku tidak pernah lagi melihatnya,” imbuh Tiffany.
“Bahkan
sampai mati pun, dia masih terbayang tuan Kim!” kata Kai dengan geram.
Sekarang
Kai paham. Krystal trauma akan masa kecilnya ketika dia dilecehkan oleh Tuan
Kim. Hingga dia beranjak dewasa, perasaan trauma itu masih ada. Belum lagi,
keluarganya yang broken home. Ibu Krystal meninggal, ayahnya meninggal.
Tidakkah membuatnya terpukul?
“Apakah
kau tahu panti asuhan apa waktu dia dititipkan?” tanya Kai.
“Sebuah
panti asuhan dipinggiran Seoul. Kalau tidak salah panti asuhan ‘Kasih Sayang’.
Aku tidak yakin kalau panti asuhan itu masih berdiri atau tidak.”
Pagi-pagi
buta sekali Kai sudah keluar dari apartemennya. Dia berusaha mencari panti
asuhan yang dulu ditinggali oleh Krystal. Sebuah berita disurat kabar kemarin
menuliskan bahwa panti asuhan Kasih Sayang akan digusur hari ini.
Kai
berpacu dengan waktu. Dia tidak ingin ketika sampai disana, hanya puing-puing
yang tersisa. Tanpa disadari, Minho mengikutinya dari belakang.
3
Jam Kai mencari panti asuhan tersebut. Akhirnya dia menemukannya. Belum
dibongkar. Namun seorang ibu-ibu sedang berdiri memandangi bangunan tersebut.
“Permisi,
apakah Anda pengurus panti asuhan ini?”
Dia
tersenyum memandangi bangunan panti asuhan yang sebentar lagi akan dihancurkan
itu. “Dulu.” Dia lalu mengalihkan padangangannya pada Kai. “Anda siapa, nak?”
“Maaf
bu. Ada yang ingin saya tanyakan kepada ibu,” kata Kai.
Kai
menanyakan siapa Krystal dan identitasnya. Menurut penuturan ibu tersebut,
arsip mengenai Krystal sudah dibawa oleh Krystal, sedangakan arsip panti
asuhan, sudah dipindahkan ke rumah ibu itu untuk sementara.
Kai
merasa tidak enak bila dia meminta ibu tadi mencarikannya arsip tentang
Krystal. Tak apa, mencari dalam apartemen Krystal lebih mudah dan tidak
merepotkan siapapun.
Kai
langsung masuk dikamar Krystal ketika sesampainya disana. Bahkan, kacah pecah
dan berlumuran darah juga tulisan dengan graffiti merah tempo hari yang membuat
Krystal pingsan masih utuh. Tak ada yang
berubah.
Sejak
Krystal meninggal, apartemen ini tak disentuh oleh siapapun. Kai merasa dia
lebih baik untuk undur diri. Dia menelpon polisi untuk segera kemari. Polisi
sampai 15 menit kemudian. Kai melaporkan tindak terror yang terjadi seminggu
yang lalu, ketika Krystal pingsan.
Waktu
itu, polisi tidak menyelidiki hingga kedalam apartemen Krystal. Hanya depan apartemen
dan cctv. Polisi memotret beberapa
barang yang bisa dijadikan alat bukti.
Polisi pergi setelah menyelesaikan beberapa urusan ‘kecil’ mereka
disana.
Kai
duduk disofa memandang meja tamu Krystal. Dia melihat ada map yang terletak
dibagian bawah meja yang biasa diataruh untuk majalah atau bahan bacaan. Kai
mengambil map tersebut dan membacanya.
BRAVO! Inilah file yang dia cari. Tapi kenapa
bisa sampai ada disini? Tak masalah. Kai
segera menunggalkan apartemen Krystal untuk menganalisa apa yang terjadi.
***
Susana café pada jam 10 pagi memang tidak
telalu ramai. Selain jam orang bekerja, para pekerja lebih memilih untuk
delivery daripada langsung datang ke café. Ya, walaupun hanya cemilan seperti
roti bakar, ataupun kopi hangat.
Minho menunggu seseorang. Orang yang dia
tunggu datang 5 menit kemudian. Bukan, bukan orang itu yang terlambat. Tapi
Minho datang terlalu cepat.
Orang
itu seorang wanita. Dia sangat anggun. Rambutnya pendek dan aksesorinya
terlihat bermerek. Antingnya dan kalungnya termasuk branded di Korea. Parasnya
sungguh cantik.
“Kenapa
pagi-pagi kau memintaku datang kemari?” tanya wanita itu.
“Aku
ingin minta tolong padamu,” jawab Minho.
“Apa
yang bisa kubantu?”
To Be Continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar