GOODBYE
[Chapter 1]
[Cast]
L Infinite ; Eun Soo/You (OC)
[Rating]
PG-13
[Genre]
Romance, Sad, Angst, Tragedy
[Lenght]
Chaptered
[Dislaimer]
PLEASE DO NOT COPY PASTE THIS FF. DO NOT CLAIM THIS FF/
COVER AS YOURS. PLEASE LEAVE YOUR COMMENT BEFORE GO. WARNING THERE ARE SOME
TYPOS. Gamsahamnida^^
Pistol
dikeluarkan dari saku sebelah kiri celana jeans. Peluru sudah tersedia disana.
Masih hangat, tinggal ditembak. Jika salah sedikit saja, aka peluru akan menuju
sasarannya. Pistol itu diarahkan tepat
pada target.
BANG!
Peluru ditembakkan. Timah yang pasih panas itu langsung menebus kulit,
merobeknya dan tembus menuju jantung. Sang sasaran langsung jatuh tanpa sempat
mengucapkan kata-kata terakhirnya lagi.
Sang pembunuh menaruh pistol didekat
korban seolah-olah korban yang mebunuh dirinya sendiri. Sebelumnya, dia membuat
bekas sidik jari korban pada gagang pistol agar alibi semakin kuat.
Sang pembunuh keluar melalui jendela
sebelum kerumunan orang datang. Tugas diselesaikan dengan bersih. Sang pembunuh
pulang ke markasnya untuk melaporkan tugasnya pada bosnya.
***
“PEMIMPIN
PERUSAHAAN BESAR KOREA DITEMUKAN TEWAS DIKAMARNYA. DIDUGA BUNUH DIRI” Begitulah
bunyi dari headline koran-koran pagi ini. Beberapa stasiun televisi dan radio
juga memberitakan hal yang sama.
Eun Soo melihat berita kejadian
semalam itu di tv. Eun Soo terdiam. Dia memasang muka datar sambil menyeruput
teh paginya. Lalu berkata dalam hatinya, “Tuhan,
hidup keras.”
Dia
sudah hampir seminggu tidak menemui ibunya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaanya yang kata ibunya sebagai penjaga toserba 24
jam.
Eun
Soo berpakaian rapi hari ini bukan untuk pergi ke gereja. Namun menjemput
ibunya di gereja. Hari Minggu seperti ini, biasanya ibunya dan dan keluarga
besar majikannya mengunjungi gereja.
Walaupun
ini hari Minggu, Eun Soo tak ada niat sama sekali untuk masuk ke gereja. Dia
malu pada Tuhan. Dia terlalu banyak dosa. Dia sudah tak suci lagi untuk
memasuki gereja, pikirnya seperti itu.
Layaknya
seperti perempuan lainnya, Eun Soo memakai dress floral yang panjangnya sedikit
diatas lutut. Rambutnya tidak panjang, hanya sampai di bawah telinga. Sebenarnya, dia terlihat cantik.
Saat
sampai di gereja, Eun Soo menunggu didepan gereja. Dia mengintip sedikit
kedalam. Ada ibunya beserta keluarga majikannya. Pendeta sedang memimpin doa
para jemaat.
Eun
Soo hanya terdiam melihat para orang-orang berdoa. Selesai berdoa dengan
khusyuk, para jemaat keluar. Eun Soo bersiap-siap menemui ibunya.
“Eomma,”
panggil Eun Soo.
“Astaga.
Kenapa kau ada disini?” tanya Ibunya.
“Tentunya
untuk berdoa.”
Majikan
ibunya menyela pembicaraan mereka dengan menyuruh mereka segera naik ke mobil.
Seorang laki-laki muda lewat dibelakang ibu Eun Soo, membuat perhatiannya
sedikit teralihkan.
“Eomma,
apakah dia tuan muda yang kuliah di Inggris itu?”
“Nde.
Ayo, segera naik ke atas mobil.”
Ini
bukan kali pertamanya Eun Soo mengunjungi ibunya. Majikannya tahu kalau Eun Soo
adalah anak dari pelayan mereka. Eun Soo biasanya jika punya waktu luang dia
akan membantu beberapa pekerjaan ibunya.
Sesampainya
dirumah, Eun Soo membantu ibunya dan beberapa pelayan lain untuk menghidangkan
makan siang. Setelah makan siang siap, para pelayan menghidangkannya satu
persatu.
“Eun
Soo, tolong kau panggil tuan muda diatas,” pinta Nyonya besar.
“Maaf,
dimana kamarnya?”
“Kamar
setelah kamarku.”
Eun
Soo segera melakukan apa yang diperintahkan oleh nyonya besar. Eun Soo langsung
mengerti siapa yang dimaksud dengan tuan muda. Seorang namja yang tadi dia
lihat ketika di gereja.
“Permisi
tuan, makan siang sudah siap…,” kata Eun Soo sambil mengetuk pintu.
“Nde!”
sahutnya dari dalam.
Eun
Soo langsung pergi menuju kebawah. Selang 5 detik kemudian, tuan muda keluar
dari kamarnya. Dia menyadari suatu kejanggalan pada pelayannya. Kenapa dia
terlihat begitu muda?
“Permisi,”
kata tuan muda..
Eun
Soo berbalik. Tuan muda terdiam sejenak. Benar dugaannya. Apakah dia pelayan
baru disini? Rasanya tidak mungkin. Mana ada wanita semuda dan secantik dia
menjadi pelayan.
“Ada
apa?”
“Kau siapa?” tanyanya.
“Aku
anak dari bibi Park. Ada yang bisa aku bantu, tuan?”
“A..
ani, ani.”
Eun
Soo memohon diri lalu kembali ke dapur.
Ibunya sedang membereskan beberapa peralatan memasak yang dipakai tadi.
Eun Soo ikut meringankan perkerjaan ibunya.
Makan
siang selesai. Piring diangkat kedapur untuk dicuci. Tak banyak piring yang
harus dicuci karena penghuni rumah hanya sedikit: tuan besar, nyonya besar,
nona, dan dua tuan muda. Lagipula, mereka makan dengan porsi yang sedikit.
Ponsel
Eun Soo berdering disela kegiatan mengelap piringnya. Eun Soo menjedai
kegiatannya itu lalu mengangkat telepon.
“Eomma,
mianhae, aku ada urusan mendadak. Bosku memanggilku. Aku tidak bisa membantumu
lebih lama lagi. Tak apa kan?” tanya Eun Soo dengan sopannya setelah menelpon.
“Kalau begitu cepat pergilah. Jangan
sampai kau dipecat gara terlambat. Ibu bisa melakukannya sendiri. Jangan
khawatir,”jawab ibunya.
Eun Soo mengambil tas selempangnya
lalu memohon diri pada ibunya. Eun Soo menyusuri halaman rumah majikan ibunya
yang begitu besar. Rasanya terlalu jauh bila ingin menuju ke gerbang.
“Hei kau!” teriak seseorang.
Eun Soo mendengarnya namun tidak
ingin berbalik. Karena dia berpikir kalau itu bukan dia.
“Hei kau yang berbaju biru,” suara
itu semakin dekat dengannya. Tepat dibelakangnya.
Suara tuan muda. Eun Soo
mengenalinya. “Ada apa?”
“Bisakah kau membuatkanku jus limau
dingin?”
“Maaf tuan, saya sedang
terburu-buru.” Eun Soo memberikan hormat lalu berbalik.
Tangan Eun Soo ditahan oleh tuan
muda. “Setidaknya aku tahu namamu. Siapa namamu?”
“Eun Soo. Park Eun Soo.”
Tuan muda melepaskan pegangannnya
lalu Eun Soo pergi. Tuan muda bergumam tak jelas. Dia sedang berusaha
mengingat-ngingat nama Eun Soo. Dia lalu tersenyum kecil dan segera kembali ke
rumah.
Sebelum Eun Soo pergi ke tempat
kerjanya dia singgah ke rumah untuk berganti pakaian lalu segera pergi ke
tempat kerjanya. Bukan, bukan, maksudku, menghadap pada bosnya.
Tempat kerja Eun Soo tidak tentu,
bisa berpindah-pindah. Dia selalu memakai masker dan sarung tangan ketika
bekerja. Acapkali dia menyamar. Sejujurnya, ini bukanlah pekerjaan yang umum
untuk seorang wanita.
Perjalanan menuju bosnya memakai bis
lalu disambung dengan berjalan kaki selama 10 menit,. Agak jauh memang.
Sedikit.. terpencil. Sebuah tempat bekas container kapal yang dijadikan rumah
itu beridiri diantara beberapa rumput-rumput liar. Eun Soo masuk kedalamnya.
“Kenapa kau lama sekali?” pertanyaan
itu langsung menyambutnya ketika masuk.
“Maafkan aku.”
Beberapa rekan kerja Eun Soo hanya
menyeringai. Sebenarnya mereka agak mencibir. Eun Soo adalah satu-satunya
perempuan disini. Bosnya melemparkan sebuah Koran kehadapannya. Topic hangat
pagi ini: DIREKTUR SALAH SATU PERUSAHAAN BESAR KOREA DITEMUKAN TEWAS
DIKAMARNYA, DIDUGA KARENA BUNUH DIRI.
Bosnya yang duduk dengan sepuntung
rokok yang dihisapnya itu tersenyum. “Kerja bagus,” katanya. Dia menghisap
rokoknya lagi dan berkata. “Jung Tae, jelaskan.”
Anak buah yang bernama Jung Tae itu
mengangguk. Lalu membuka suara, “Kita mendapat telepon dari klien kita. Dia
menyuruh kita untuk membereskan pewaris perusahaan Miracle selanjutnya..”
Eun Soo tak bergeming. Dia tak meberi
tanggapan. Dia hanya berdiri menunduk mendengarkan titah sang raja. Dia tak
berani bersuara. Didalam hatinya, dia memohon ampun berulang kepada Tuhan.
“Dua kali lipat bayaran tertinggi
yang pernah kita dapat. Bos akan menyerahkan seperempatnya kepadamu jika kamu
berhasil.”
Jung Tae tak bersuara lagi setelah
itu. Cukup lama dia terdiam, lalu sang bos mencodongkan dirinya kedepan. “Tak
berhasil? Bayarlah ongkosnya dengan nyawamu, atau cacat.”
Eun Soo tak menginterupsi perkataan
bosnya tadi. Sudah konsekuensi dari awal dalam perkerjaan ini. Sudah biasa, Eun
Soo tak perlu lagi menelan ludah. Raut mukanya datar, dia terlihat tegar.
Hatinya terus meminta ampunan pada Tuhan.
“Kau diberi waktu sampai akhir tahun
ini. Mengerti?”
“Mengerti.”
Jung Tae merogoh saku dalam tuxedo
hitamnya. Jung Tae yang selalu setia seperti anjing peliharaan bosnya itu
selalu berpakaian necis. Siapa sangka dibalik penampilannya ala kantoran itu,
dia sebenarnya bekerja ‘kotor’.
Jung Tae menyerahkan sebuah foto pada
Eun Soo. “Targetmu.”
Eun Soo mengambilnya dan hanya
melihatnya sekilas lalu dia simpan dibalik jaket hitamnya.
“Kau boleh pergi. Waktumu dimulai
hari ini. Semakin cepat semakin baik.”
Eun Soo memohon diri lalu berjalan
keluar. Mukanya datar tanpa perasaan kaget sedikit pun. Ya, dia tahu dimana itu
perusahaan Miracle. Sbuah perusahaan besar dan ternama di Korea dimana dulu
ayahnya bekerja sebagai karyawan disana.
Eun Soo berjalan menuju halte bus
untuk menaiki bus menuju rumahnya. Bus datang setelah dia menunggu 15 menit
bersama bebrapa penumpang lainnya. Eun Soo duduk menyendiri di dekat jendela.
Di pojok.
Bus mulai berjalan ketika peumpang
sudah naik. Eun Soo masih memasang muka datar. Tak ada ekspresinya kaget akan
tugasnya tadi, dan apa resikonya jika ia tak bisa menjalankannya dengan tuntas.
Eun Soo memandang kosong keluar jendela.
Dia membuka topi dan maskernya. Ini
keputusannya dari awal, memepertaruhakan nyawanya demi menyambung hidup.
Setidaknya dia sudah bisa membayar seperempat hutang-hutang keluarganya di bank
semenjak dia bekerja pada bosnya.
Jung Tae yang memperkenalkannya akan
pekerjaan kotor ini. Dia mungkin akan tinggal dijalanan jika Jung Tae tidak
meberikan pekerjaan untuknya saat itu. Dia hampir diusir dari rumah sewanya.
Eun Soo ingat seusuatu. Dia merogoh
saku dalam jaketnya. Foto targetnya. Tangannya terasa berat untuk mengeluarkan
foto tersebut. Siapa lagi orang yang akan mati ditangannya? Jika bukan karena
hutang yang mengahantuinya di bank, dia tak akan sanggup melakukan ini.
Eun Soo cukup terkejut ketika melihat
targetnya. Entah, mungkin Tuhan mungkin memberinya jalan untuk melakukan
pekerjaannya kali ini. Eun Soo memegang foto orang itu, lalu tertawa. Tertawa dengan
rasa bersalahnya, tertawa akan kebetulan yang terjadi ini.
Eun Soo masuk ke rumahnya dan
merebahkan dirinya dilantai. Eun Soo melihat langit-langit runahnya dengan
pandangan kosong. Dia belum ingin melakukan pekerjaannya hari ini. Baru saja
kemarin dia membunuh orang.
Eun Soo memejamkan matanya, lalu
menaghela napas panjang. Berat. Haruskah dia membayar hutang keluarganya dengan
nyawa orang sebagai gantinya? Eun Soo membuka matanya. Dia mendapatkan ide.
***
Ini
hari Senin, dimana para penghuni rumah majikan ibu Eun Soo sibuk dengan
aktivitasnya masing-masing. Tuan besar
& dua tuan muda sedang pergi mengurus perusahaan. Ibu mereka sedang
meremajakan diri.
Eun
Soo mengunjungi ibunya untuk minggu pertama di bulan baru ini. Eun Soo membawa
koper menuju rumah besar itu. Eun Soo masuk lewat pintu belakang, dan langsung
mencari ibunya. Ibuny aternyata sedang berada di halaman. Ibu sedang menyirami
bunga-bunga yang dengan telaten dirawatnya.
“Eomma”
“Omo..
kau mengagetkanku. Kau selalu mebuatku kaget. Kenapa kau ada disini? Kau tidak
bekerja?”
Eun
Soo menyegir kuda pada ibunya. Lalu dia menunduk. Ibu mematikan keran air lalu
mengajaknya duduk disalah satu bangku taman yang ada.
“Ada
apa sebenarnya? Ceritakan padaku.”
Eun
Soo terdiam sejenak. Dia menelan ludahnya. Lalu berkata, “Aku… dipecat dari
pekerjaanku. Dan, aku diusir dari rumah sewaan karena belum mebayar uang sewa
Selma 4 bulan terakhir….”
“Apa
salah yang kau perbuat hingga kau
dipecat?” Ibu tak bisa enyembunyikan perasaan kecewanya pada Eun Soo.
“Aku
tak tahu. Toserba itu mungkin sudah akan ditutup. Omsetnya enurun. Mungkin
mereka memecatku untuk mengurangi pengeluaran.”
“Apakah
gajimu terlalu kecil hingga kau diusir dari rumah?”
“Entah.
Harga barang akhir-akhir ini naik. Gajiku terlalu kecil untuk menutupi lubang
(hutang) dan kebutuhan sehari-hari.” Eun Soo terdia cukup lama. “Eomma,
bolehkah aku tinggal disini sampai aku mendapatkan pekerjaan? Aku tidak tahu
harus tinggal dimana lagi…”
“Ibu
tak tahu Eun Soo..”
“Eomma,
tolong kau bicarakan hal ini kepada majikanmu.”
“Jika
dia pulang, aku akan mencobanya.”
Eun
Soo menghela napas. Dia sebenarnya tak tega mengatakan hal ini kepada ibunya.
Eun Soo tidak ingin membebani ibunya. Beberapa bulan kedepan, ibunya tak perlu
khawatir lagi, sudah ada seperempat keuntungan bosnya yang dikasih padanya
nanti, pikirnya.
Eun
Soo masuk kedalam rumah setelah selesai menggantikan tugas ibunya menyiram
tanaman. Eun Soo lalu menuju dapur membantu ibunya memasak makanan. Sementara
ibunya sedang bernegosiasi dengan majikannya perihal kedatangan Eun Soo.
Eun
Soo lagi-lagi meminta ampun kepada Tuhan. Namun bayaran yang besar menantinya.
Dengan bayaran itu, dia sudah bisa membereskan hutang-hutang keluarganya. Jika
hutang-hutang keluarganya sudah beres, Eun Soo akan keluar dari pekerjaan keji
ini.
Ibu
kembali kedapur menemui Eun Soo dan member isyarat ‘oke’ padanya. Eun Soo
tersenyum. Dia dan ibunya lalu melanjutkan kerja menyiapkan makan siang.
Bibi Han melayani penghuni rumah
makan siang. Tuan besar dan para tuan muda menyempatkan diri untuk pulang makan
siang bersama. Mungkin ada hal yang perlu dibicarakan.
Eun Soo menigintip sedikit dari
dapur ketika mereka makan. Dia hanya
ingin mengecek targetnya. Eun Soo lagi-lagi menhela napas. Dia terlalu banyak
menghela napasnya selama ini. Terlalu berat.
Eun Soo belum ingin melancarkan
aksinya saat ini. Terlalu dini, terlalu cepat dicurigai. Dia tidak boleh
bertindak gegabah. Salah sedikit, maka dia akan ketahuan. Pekerjaannya
menuntutnya untuk memberikan hasil yang sehalus mungkin tanpa ada bekas.
Siang
hari setelah makan siang rumah kembali sepi. Tugas-tugas rumah tangga telah
selesai. Para asisten rumah tangga yang ada mencari rehat sedikit sebelum sore
datang dan bersiap untuk menyiapkan makan malam.
Sebelum
Eun Soo membunuh sang target, Eun Soo ingin mendekatinya. Target itu berada
satu rumah dengannya. Setidaknya dia mempunyai peluang yang lebih besar untuk
melancarkan aksinya. jika dia membunuhnya sekarang, rasanya terlalu cepat dan
nama ibunya akan tercemar.
Ibu
merapikan kamar yang ditempatinya bersama Eun Soo. Ibu mengangkat tas ransel
besar milik Eun Soo. Kelihatannya dari luar tak ada isi, namun ketika diangkat
terasa berat. Ibu menguncang-guncangkan tas Eun Soo. Karena penasaran, ibu membuka
resleting tas.
“Eomma!”
Eun Soo tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
“Wae?”
(To Be continued)
-----------------------------------------------
Gimana FF-nya? Alter You tahan dulu ya :3
.png)
Ayayayaaa typo masih betebaran nak, lebih teliti ya ngetiknya. Bagus bagus, aku penasaran targetnya itu tuan muda atau tuan besar :3
BalasHapus