03 Oktober 2014

[FF] Goodbye (Chapter 2)

GOODBYE
[Chapter 2]


[Cast]
Kim Myungsoo (L Infinite) ; Eun Soo/You (OC)
[Rating]
PG-13
[Genre]
Romance , Sad, Angst, Tragedy
[Lenght]
Chaptered


Ibu merapikan kamar yang ditempatinya bersama Eun Soo. Ibu mengangkat tas ransel besar milik Eun Soo. Kelihatannya dari luar tak ada isi, namun ketika diangkat terasa berat. Ibu menguncang-guncangkan tas Eun Soo. Karena penasaran, ibu membuka resleting tas.
“Eomma!” Eun Soo tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
“Wae?”
Eun Soo mengambil tasnya yang berada dalam genggaman ibu seraya berkata, “Eomma, jangan capek-capek merapikan kamar ini biar aku saja. Eomma sudah terlalu capek merapikan istana ini..”
“Ah… Tidak apa-apa. Biar ibu saja yang membereskannya.” 
Ibu berdiri lalu mencoba mereapkian beberapa hal yang ada. Eun Soo mencegatnya dan menyuruh ibu duduk. Eun Soo memijat-mijat bahu ibunya.
“Eomma, istirahatlah sejenak. Kamar ini biar aku yang bersihkan.”
“Kau anak yang baik Eun Soo.”
Ibu menyandarkan dirinya ke tembok. Ibu mencoba relaks sebentar. Semenjak Eun Soo disini, pekerjaan menjadi lebih terbantu.
Malam tiba dan para penghuni rumah sudah terlelap. Sebenarnya kurang seorang. Tuan muda yang tempo hari baru pulang dari Inggris itu. Ibu Eun Soo sudah tidur duluan. Sementara Eun Soo masih duduk membaca.
Beginilah Eun Soo disela-sela aktivitasnya, pasti selalu menyempatkan diri untuk belajar. Eun Soo berpikir, jika dia tidak kuliah, setidaknya dia masih bisa mengulang ataupun mepelajari pelajaran.
Lampu-lampu rumah sudah dimatikan. Hanya beberapa saja yang dinyalakan. Rumah sunyi tak ada suara. Sebenarnya tak berbeda jauh dengan kondisi rumah pada siang hari. Eun soo mulai menguap. Dirinya sudah tak kuasa lagi menahan kantuk. Sudah jam 02.00 pagi. Eun Soo menutup bukunya lalu berbaring disamping ibunya yang sudah tidur duluan.
 Ting tung~
Bel rumah berbunyi. Eun Soo yang baru saja memasuki dunia mimpi harus terbangun karenanya. Siapa yang datang tengah malam begini? Eun Soo dengan gontai berjalan keluar membuka pintu. Pintu di gedor-gedo dari luar.
“Eomma~~,” suara tuan muda yang baru pulang dari Inggris tempo hari lalu, Myungsoo. Dia dari luar mengetuk pintuk dengan cukup keras.
Eun Soo membukakan pintu untuknya. Tiba-tiba tubuh tuan muda menabrak Eun Soo. Eun Soo tak kuasa menahan tuan muda agar tak jatuh. Walhasil, mereka berdua jatuh. Tubuh Eun Soo dibawah dan tuan muda tengkurap diatasnya.
Seketika tuan muda tersadar. Wajahnya dan wajah Eun Soo hanya berjarak beberapa senti saja. Mereka saling berhadapan. Mata Eun Soo terbelalak. Myungsoo juga sama halnya, dia kaget karena sudah dalam posisi seperti ini.
            Tuan muda segera berdiri diikuti Eun Soo.
            “Maaf,” ucap mereka berdua bersamaan.
            “Ini sa—“ lagi-lagi bersamaan.
            “Tidak, tidak, ini salahku. Maafkan aku,” kata Myungsoo. Myungsoo dengan sedikit terhuyung dia berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
            Eun Soo mendekati Myungsoo untuk menawarkan bantuannya. Dia tidak  tega melihat tuannya berjalan terhuyung di tangga.  “Aku baik-baik saja,” kata Myungsoo. Eun Soo memastikan dari jauh kalau tuan muda sudah masuk ke kamarnya. Selepas itu dia melanjutkan tidurnya yang tertunda.
            Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Jauh sebelum itu, para bibi sudah keluar dari kamar mereka untuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan untuk para majikan. Eun Soo ikut membantu walau cukup membuat tangannya teriris pisau karena masih mengantuk.
            Saat para majikan sedang makan, Eun Soo berada ditaman untuk merawat tanaman yang ada. Ada beberapa rumput yang perlu dipangkas. Eun Soo memulai pekerjaannya dengan sepetak tanah yang berada disamping rumah.
            Myungsoo keluar duluan karena sudah selesai makan. Dia hari ini tidak begitu nafsu makan. Padahal, menu yang dihidangkan tidak bisa dibilang tidak enak. Myungsoo melihat Eun Soo yang sedang membereskan halaman.
            Eun Soo menyapu daun yang berguguran. Myungsoo tiba-tiba berlari memeluk Eun Soo. Dia mendekap Eun Soo dengan tangan kanannya yang melindungi kepala Eun Soo dengan tangan kirinya. BRAK! sebuah pot bunga jatuh mengenai punggung Myungsoo.
            Eun Soo kaget. Dia baru sadar kalau tadi dia telah menyenggol rak pot bunga yang ada. Myungsoo melepaskan pelukannya setelah pot bunga jatuh mengenai punggungnya. Tuksedo yang dia pakai terlihat berdebu. Beruntung dia taka pa.
            “Neo gwenchana?” tanya Myungsoo.           
            “Maaf sudah merepotkan,” kata Eun Soo membungkukkan dirinya. “Maaf.”
            “Apakah hidupmu hanya penuh dengan kata maaf? Ini hanya pertolongn kecil. Tidak apa-apa.”
            “Jas anda menjadi kotor, biar saya bersihkan.”
            “Tidak usah. Aku ingin naik keatas sebentar. Lain kali hati-hati.”
            Myungsoo segera menghilang dari jangkauan Eun Soo sebelum Eun Soo membersihkan jas miliknya. Myungsoo memegang dada sebelah kanannya—kenapa, Myungsoo?
            Eun Soo merasa bersalah pada Myungsoo. Lagi-lagi dia meminta maaf pada Tuhan. Kalau dia bergeser sedikit ketika Myungsoo mendekapnya, pot sudah terkena pada kepala Myungsoo. Eun Soo kesal pada dirinya sendiri. Tidak, ini terlalu cepat, pikirnya.  Eun Soo kembali melanjutkan kerjanya.
***
“Kebetulan sekali, ibuku sangat membutuhkan orang sepertimu, Eun Soo,” komentar Yoo Ra saat Eun Soo berkunjung ke restorannya.
Eun Soo tersenyum. Dia berterima kasih pada Yoo Ra. Yoo Ra membawa Eun Soo bertemu ibu Yoo Ra yang berada dibagain dalam toko. Eun Soo berbincang sebenatar dengan ibu Yoo Ra mengenai jam kerja, persyaratan kerja, dan beberapa hal lainnya.
“Baiklah, kau boleh kerja mulai hari ini kalau kau mau,” kata ibu Yoo Ra.
“Gasahamnida Eomonim,” kata Eun Soo.
Sekarang dia bukan pengangguran lagi. Setidakya dia bisa mengisi kekosongan waktunya selama dia mengatur waktu yang tepat untuk membunuh targetnya. Eun Soo dibawa Yoo Ra menuju ruang pegawai. Dia mengganti bajunya dengan seragam pegawai.
Eun Soo bekerja di restoran keluarga Yoo Ra, temannya. Restoran ini merupakan restoran makanan cepat saji waralaba.  Masih pagi dan belum banyak pengunjung. Restoran pun baru saja dibuka. Eun Soo membantu Yoo Ra membereskan restoran.
“Seorang pria bersetelan mewah ditemukan tewas mengenaskan dikamar hotelnya semalam,” penyiar berita menyiarkan berita pagi yang sedang hangatnya. Cukup menggemparkan Korea untuk pagi yang berangin ini.
“Kejamnya,” Yoo Ra bergumam.
Eun Soo tanpa memprhatilkan tv dia tersenyum. Senyum mencibir. Ya, walau tak berkomentar apapun, Eun Soo sudah mengetahui situasinya. Selanjutnya, mereka pasti membunuh orang yang bersangkutan dengan korban, pikir Eun Soo.
Pelik. Entah beberapa bulan kemudian, mungkin ada berita tentang target yang sekarang ia tangani. Tuhan, hidup keras, batinnya. Eun Soo menerawang keluar jendela toko yang bening karena baru saja dibersihkan. Seorang lelaki berlari kencang pada trotoar jalan disebelah, diikuti beberapa lelaki lainnnya seraya berteriak, “pencuri!”
Eun Soo meletakkan kain lap mejanya. Dengan cepat Eun Soo berlari mengikuti orang-orang yang berlari tadi.
“Mau ke—“  Yoo Ra belum sempat menyelesaikan pertanyaannya dan Eun Soo sudah hilang dari jangkauan matanya.
Eun Soo berlari sangat cepat. Para lelaki yang dari tadi mengejar seorang yang dituduh sebagai pencuri itu, terlihat begitu ‘lembek’ bagi Eun Soo. Eun Soo sedikit tertawa mencibir. Seorang lelaki yang sedari tadi mengejar sang pencuri berada sedikit dibelakangnya.
Eun Soo sekarang sudah berada tepat dibelakang sang pencuri. Berusaha mencari kesempatan yang tepat untuk mengurusi sang pencuri. Eun Soo menarik tudung jaketnya. Pencuri itu berusaha lari, Eun Soo menarik tudung itu lebih kuat dan akihrnya lelaki itu jatuh.
Dia mencoba bangkit, sebagai imbalan Eun Soo memberikan pendaratan sempurna kepalan tangannya diwajah sang pencuri ditambah sebuah kuncian taekwondo ketika sang pencuri lagi-lagi berusaha untuk kabur. Beberapa lelaki yang ada langsung mebereskan pencuri itu.
Eun Soo memungut dompet yang dijatuhkan oleh pencuri itu. Sebuah mobil hitam berhenti disamping Eun Soo. Eun Soo mengalihkan perhatiannya. Seorang lelaki bersetelan rapi keluar dari mobil. Eun Soo dengan refleks langsung membungkukkan badannya.
“Tuan,” katanya.
“O, ternyata kau. Terimakasih,” kata lelaki itu. Dia tuan muda yang tertua, Sung Kyu. Lebih tua dibandingkan Tuan Myungsoo. “Apa yang harus aku lakukan atas pertolonganmu ini?”
“Ah.. tidak perlu tuan,” Eun Soo menolak. Dia memberikan dompet tuannya. “Kalo begitu saya permisi dulu.”
Eun Soo segera berpamitan sebelum tuan muda memberikan imbalan. Eun Soo kembali ke restoran Yoo Ra dengan keadaan berpeluh. Yoo Ra melihat Eun Soo lalu berkomentar, “Woa, heroik rupanya.” Eun Soo ternseyum tipis dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tuan muda tersenyum dibalik mobilnya kemudian menyuruh sopirnya melanjutkan perjalanan.
***
Eun Soo merebahkan diri pada lantai kamarnya dan ibunya. Lelah. Dia baru pulang dari restoran. Eun Soo menatap langit-langit dengan pandangan kosong.  Ini hari pertamanya bekerja. Walaupun  harus melayani banyak pelanggan, bukan sesuatu yang membuatnya patah semangat.
Eun Soo memutar bola matanya. Dia memabawa bola matanya berkeliling melihat sekitar. Kamar yang kecil, sempit, jauh dari kata mewah. Eun Soo lagi-lagi merasa malu pada dirinya. Dia belum bisa memberikan rumah bagi ibunya. Bersabarlah, pikirnya. Sebentar lagi ibunya tidak perlu bersusah payah menyewa rumah dan lainnya. Seperempat dari dua kali lipat bayaran tertinggi itu bukan nominal yang sedikit.
Eun Soo bangkit melihat kalender yang digantung dikamar. Eun Soo menyilangkan tanggal hari ini. Dia masih mempunyai 5 bulan lagi. Bukan waktu yang cepat memang, tapi jika terlalu lama, dia mungkin melupakan misinya.
Eun Soo merasa bosan. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Eun Soo keluar dari kamar menuju halaman belakang rumah yang megah ini. Eun Soo duduk dibangku taman. Dirinya segera beranjak karena lampu taman belum dinyalakan. Dia berniat menyalakannya.
Saat Eun Soo  berjalan menuju rumah, tiba-tiba seseorang memegang tangannya. Eun kaget dan langsung membuat tangan orang itu tak bisa bergerak. Kuncian sederhana.
“Aaaa!” pekik orang itu kesakitan.
Eun Soo segera melepaskan kunciannya dan membungkuk. “Maafkan aku, tuan. Maafkan aku.”
Tuan muda Myungsoo memegang tangannya yang masih sakit.  “Woa, ternyata kau garang juga.”
“Maafkan aku tuan..”
“Aku akan memaafkanmu, jika kamu mau menemaniku untuk jalan-jalan malam ini.”
Eun Soo menatap tuan muda kaget. “Ta.. Tapi—“
“Aku tak akan memaafkanmu.”
“Ba.. baiklah. Kalau begitu, tunggu sebentar—“
“Tidak perlu. Ikut saja.”
“Ta..ta—“
Belum sempat Eun Soo menyelesaikan perktaannya, Myungsoo menariknya. Dia dibawa menuju mobil pribadinya. Myungsoo membawa Eun Soo ke suatu tempat.
“Kita mau kemana tuan?”
“Kau akan tahu.”
Myungsoo membawa Eun Soo ke sebuah mall. Dia membawa Eun Soo menuju toko baju. Eun Soo sedari tadi tak mengtakan apa-apa. Dia hanya menuruti apa yang dikatakan tuannya selama itu tak macam-macam.
Myungsoo mendatangi bagian pakaian perempuan. Dia memilah beberapa baju. Lalu menyuruh Eun Soo memakainya. Eun Soo agak kaget, namun Myungsoo yang sadar akan itu memaksakannya. “Aku perlu model untuk proyekku.”
Eun Soo disuruh mencoba dress selutut yang manis untuknya. Pas sekali. Saat Eun Soo keluar, Myungsoo tidak ada. Eun Soo mencari Myungsoo dan mendapatinya dikasir. Myungsoo mengalihkan padangannya kepada Eun Soo.
Cukup lama di memperhatikan Eun Soo. Myungsoo sadar dan  segera membuyarkan perhatiannnya. “Kemasilah barang-barangmu kita akan pergi kesuatu tempat. Oh ya, pakai saja baju itu.”
Eun Soo kaget. Kenapa ini? “Palli wa,” terguran Myungsoo membuat Eun Soo tak sempat bertanya mengapa tuan muda melakukan ini padanya. Eun Soo dibawa menuju taman dibawah jembatan. Banyak sekali orang disana.
Ada yang sekedar duduk-duduk menikmati indahnya sungai Han yang membelah Korea, ada yang hanya berolahraga malam, dan sebagainya. Eun Soo dan Myungsoo duduk dibangku. Sebangku, namun berjarak cukup jauh.
“Ini,” Myungsoo memberikan se-cup kopi pada Eun Soo. Eun Soo dengan hormatnya menerima kopi yang diberikannya. Eun Soo meneguknya sedikit. “Aish, kau ini.”
“Sudahlah, anggap saja aku ini temanmu, bukan majikamu. Lagi pula, ini bukan dirumah. Kau tidak perlu bersikap kaku seperti itu. Jika kau seperti ini, jalan-jalan menjadi tidak mengasyikkan.”
Eun Soo hanya diam saja. Dia mengagguk pelan.
“Ah, kau ini. Masih saja bersikap seperti itu. Apa aku perlu memberiu kursus?!” nada bicaranya kali ini lebih tinggi.
“A.. aniyo!” kata Eun Soo.
Myungsoo tertawa melihat tingkah Eun Soo. Eun Soo menunduk malu. Myungsoo memegang dadanya. Dia menarik napas panjang.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Eun Soo
“Gwenchana..” Myungsoo tersenyum. “Aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu.”
“Ceritakanlah, aku akan mendengarnya dengan senang hati.”
“Aku pernah merasa sangat senang sekali ketika aku SMA. Dan, saat aku beranjak dewasa, aku merasa hidupku lurus saja. Namun entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasakan kesenangan yang melebihi rasa senangku saat SMA.”
 Eun Soo menatap Myungsoo sendu. Dia kasihan. Dia terdiam agak lama. “Ah.. benarkah? Apa yang menyebabkanmu begitu senang?”
“Suatu hal.”
Saku jas Myungsoo bergetar diiringi nada dering ponselnya. Ada yang menelpon: eomma. Myungsoo mengangkat telponnya dengan malas.
“Kau dimana?” tanya suara eomma-nya diseberang sana.
“Aku sedang jalan-jalan. Sudah lama aku tidak melihat Seoul. Aku mungkin akan pulang larut. Ibu tidak perlu menungguku.”
“Oh, baiklah. Jaga dirimu baik-baik.”
“Nde.”
Myungsoo menyimpan ponselnya lalu terenyum pada Eun Soo.
“Kenapa? Apakah nyonya besar sudah memintamu pulang? Sebaiknya kita pulang saja.”
“Tidak. Dia hanya menanyakan keadaanku.”
Eun Soo menatap Myungsoo cukup lama. Myungsoo menjadi kikuk—Myungsoo, kau terlalu merasa. Eun Soo menyipitkan matanya. Hal itu membuatnya sadar kalau Eun Soo bukan menatap padanya, namun dibelakangnya.
Myungsoo melihat kebelakang untuk memastikan apa yang Eun Soo lihat. Namun tiba-tiba Eun Soo menggenggam tangan Myungsoo. Erat. Myungsoo menatap Eun Soo kaget.
“Mari kita pergi ke tempat lain aku merasa… kita perlu berjalan-jalan ke lain tempat,” kata Eun Soo. Dia sudah berdiri sambil memegang tangan Myungsoo. Eun Soo terlihat agak gugup. Dia cukup salah tingkah.
“Kau benar sekali! Ayo kita pergi.” Myungsoo membenarkan. Dia membalas apitan tangan Eun Soo. Kini mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
“Kau mau kemana?”
“Terserah padamu saja,” kata Eun Soo. Sesekali ia menengok kebelakang. Jalannya dipercepat. Dia seperti sedang menghindari sesuatu. Jantung Eun Soo berdegup kencang karena saking takutnya. Eun Soo meraba jantungnya.
Myungsoo tersenyum akan itu—lagi-lagi kau terlalu merasa, Myungsoo. Myungsoo membawa Eun Soo pada tempat penyewaan sepeda. Myungsoo mengambil sepedanya sendiri, dan Eun Soo sendiri.
“Mari kita balapan,” katanya. Myungsoo mencuri start duluan.
“Yak!!” pekik Eun Soo. Dia segera mengejar Myungsoo yang tak jauh didepannya.
Saat Eun Soo sudah jauh dari Myungsoo, ada seorang lelaki yang keluar dari kedai kaki lima.  Eun Soo kaget dan langsung mengerem sepedanya. Eun Soo memutar haluannya menuju ke jalan yang lain. Myungsoo bingung dan mencoba mengejar Eun Soo yang sudah jauh.
“Ya! Ada apa?!”
Eun Soo tidak merespon. Dia mengayuh sepedanya berbalik menuju tempat awal mereka start tadi. Eun Soo segera memarkir sepedanya lalu mencoba bersembunyi dibalik parkiran sewaan sepeda.
“Ada apa denganmu?” tanya Myungsoo memarkir sepedanya.
“Mianhaeyo, Myungsoo,” ungkap Eun Soo. “Aku rasa jalan-jalan kita harus berakhir lebih cepat. Aku merasa lelah. Tadi saat kau memintaku menemanimu, aku baru saja pulang bekerja.”
“Yasudahlah, tak apa. Aku juga merasa ini sudah saatnya kita pulang. Mari, biar kuantar pulang,” Myungsoo menawarkan Eun Soo untuk pulang bersamanya.
“Ta—“
“Ayolah,” Myungsoo mengapit tangan Eun Soo sebelum Eun Soo menolak. Dia memembawa Eun Soo ke mobilnya.
Eun Soo melepaskan tangan Myungsoo ketika sampai di mobil. Meeka berdua terlihat canggung terlihat canggung begitu menyadari kalau mereka bergandengan dari tadi.
Eun Soo menarik napas lega ketika berada di mobil. Hampir saja. Dia tadi mencoba menghindari anak buah bosnya yang sedang berkeliaran. Dirinya kaget dan jantungnya berdegup kencang ketika salah satu anak buah bosnya menatapnya.  Beruntung tak ada yang menyadarinya kalau itu dia.
***
Ponsel bos Eun Soo bergetar. Dia meregohnya pada saku celananya. Ternyata, dari klien istimewa. Bos menurunkan kakinya dari mejanya.
“Yoboseyo tuan,” sapanya mengangkat telepon.
“Sudah sampai tahap mana kau membereskan dia?”
            “Kami sudah memerintahkan anak buahku untuk menanganinya.”
            “Ah, kuraeyo? Aku harap tidak terlalu lama. Ingat batas waktumu.”
            “Nde.”
            Telepon langsung ditutup dengan cepatnya. Suara klien yang begitu dingin. Klien yang berkepribadian dingin itu menatap foto dimejanya. Foto ibunya. Tatapannya menyiratkan kesedihan juga kebencian dan dendam yang membara.
            Dilain tempat, Eun Soo mencoba membanting lawannya. Namun tidak semudah yang dibayangkannya. Ini lawan yang seimbang untuknya. Sama-sama kuat. Peluh mengucur dari dahinya. Belakangnya sudah basah.
            BAK!! Eun Soo jatuh. Dia dibanting oleh lawannya. Lawannya mengulurkan tangan kepadanya membantunya berdiri. Nafas mereka berdua tersengal-sengal. Lawan Eun Soo berusaha mengatur nafas lalu berkata, “Kau selalu saja kuat, Eun Soo.”
            Eun Soo hanya tersenyum. Dia membaringkan tubuhnya di arena pertandingan. Lelah. Tapi ini tidak semelelahkan hidupnya selama ini. Eun Soo memandang langit-langit ruang latihan. Lawannya ikut berbaring disampingnya.
            “Apakah kau mempunyai masalah?” tanya lawannya. “Aku merasa hari ini kau kurang berkonsentrasi.”
            Eun Soo hanya diam. Dia lalu menyengir. “Bukan apa-apa, Howon.”
            Howon menyikut Eun Soo. “Jika kau merasa perlu membaginya, aku akan bersedia mendengarkannya.” Dia lalu bangkit menuju ruang ganti.
            Eun Soo masih saja menatap langit-langit. Dia masih memikirkan sesuatu. Terkadang dia merasa menyesal mengambil pekerjaan ini. Kenapa bukan perkerjaan yang lain saja? Eun Soo tertawa mencibir pada dirinya sendiri.
            Harga dirinya tinggi sekali dan dia terlalu berpikir pendek waktu itu. Pada saat itu, dirinya hanya berpikir ada dua jalan untuk mendapatkan uang yang cepat. Menerima tawaran Jung Tae dengan taruhan yang besar atau menjadi wanita malam.
            Eun Soo merasa lebih biak dia menerima tawaran Jung Tae dari pada dia harus merelakan harga dirinya. Dan sekali misi hasilnya tidak bisa dibilang sedikit. Eun Soo menibir pada dirinya sendiri. Bukankah sama saja menjual diri dengan membunuh orang? Atau? Sudahlah. Eun Soo muak memikirkan hidupnya. Dia beranjak dari tempatnya menuju ruang ganti untuk masuk shift siang ini.
            Jarak tempatnya sekarang dengan restoran Yoo Ra tidak terlalu jauh. Hanya perlu berjalan 15 menit. Eun Soo merasa ingin memakan es loli. Eun Soo mampir ke salah satu supermarket untuk membeli es.
            “Woaa, lihatlah,” kata seseorang dari gang sempit disamping supermarket saat Eun Soo keluar dengan memakan es-nya.
            Eun Soo berpaling pada sumber suara. Seorang lelaki berdiri dengan tampang bengisnya. Dia memperhatikan Eun Soo dengan pandangan yang melecehkan. Dengan dinginnya, Eun Soo menghampiri lelaki tersebut.
            “Woa, kau semakin cantik saja, agassi,” katanya mendekati Eun Soo. Dia  mengusap pipi Eun Soo. “Aku masih ingat ketika kau melawan komplotan kami.”
            Dia mengelilingi Eun Soo, melihat Eun Soo dari atas kebawah. Eun Soo mengepalkan tangannya. Dia geram. Puih, Eun Soo meludahi wajah pria dengan tampang bengis itu. Sontak saja, pria itu kaget.
            “Kau berani rupanya,” katanya. Dia mencoba melawan Eun Soo dengan melayangkan pukulannya ke arah wajah Eun Soo yang jelita.
            TAK! Eun Soo menahannya. Kakinya menendang perut pria itu. Dia cukup kuat, dia hanya mundur beberapa langkah. Sosok gelap dari sudut gang keluar. Ada tiga orang. Ini tidak fair. Eun Soo tersenyum. Dia mengumpat. Mau melawanku?
            Tiga orang tadi sudah mengepungnya. Pria bengis yang selaku bosnya itu tertawa. “Menyerahlah selagi bisa, Agassi.”
            “Jangan menjilat ludahmu sendiri Ahjussi.”
            Eun Soo lagi-lagi menendang Ahjussi itu. Kaki kananya dia layangkan pada perut pria itu. Sepatu Eun Soo yag cukup keras membuat Ahjussi mundur lebih jauh. Anak buahnya mencoba memukul Eun Soo dengan besi yang bereka bawa.
            Eun Soo bertindak cepat dengan memberikan tendangan pada wajah pak tua genit itu. Lalu memberikan kuncian dan membanting Ahjussi. Ahjusii jatuh menindih 3 Anak buahnya. Jika Eun Soo laki-laki, mungkin dia sudah mengangkat Ahjussi ke udara.
            Tongkat besi yang dipegang anak buahnya terlepas dari genggaman mereka. Eun Soo dengan sigap mengambil tongkat mereka. Mereka bertiga mencoba berdiri dengan umpatan dimulut mereka. BAKK!! Eun Soo memukul mereka dengan tongkat pada lutut mereka, lalupada wajah mereka.
            Lebam sudah wajah mereka. Eun Soo tidak sampai hati untuk memulangkan nyawa mereka. Mereka berempat dengan bersusah payah berdiri. Eun Soo menabah pukulannya pada daerah perut mereka.
            Mereka berempat sudah roboh. Salah satu dari mereka mencoba bangkit namun kaki Eun Soo menahan mereka. Lebam dan berdarah sudah mereka. Eun Soo melihat keempat pria tak benar itu dengan tatapan mencibir.
            “Kalau aku tega aku sudah—“ Eun Soo mengangkat kakinya mencoba menginjak lelakai yang ada dibawahnya.
            “A.. Andwae!” pekiknya.
            Eun Soo tertawa. Eun Soo memain-mainkan tongkat besi yang dipegangnya. Dia mengarahkan tongkatnya pada bos mereka. Mengelus-ngelus dagu Ahjusdi dengan togkatnya.
            “Aigoo ahjussi, sayangnya, kau telah menjilati ludahu sendiri,” kata Eun Soo. “Biarkan aku memberikan sentuhan terakhir…” Eun Soo memukul mereka berempat dengan besi pada kaki mereka. Mereka berempat meringis.
            Lalu dia membuang tongkat mereka pada tong sampah. “Ah nde, janganlah jadi pengecut depan wanita, Ahjussi. Satu lawan empat itu tidak fair.”
            Eun Soo berjalan meninggalkan mereka berempat dengan santainya. Kawan lama. Tahun lalu Eun Soo dan komplotannya menjalankan ‘pesanan’ klien dan dihadang oleh mereka. Eun Soo menjadi terkenal karena dia wanita. Jarang-jarang ada wanita bergabung.
            “Tuan haruskah—“
            “Tidak, biarkan saja,” jawab tuan muda Sung Kyu.
            Sung Kyu terus melihat Eun Soo berlalu dari balik mobilnya. Tak berselang lama ‘kawan lama’ Eun Soo yang babak belur keluar dari gang dengan terpogoh-pogoh. Mereka saling bahu membahu berjalan menuju apotik terdekat berusaha mengobati luka mereka.
            Sung Kyu melihat keempat pria itu dari kejauhan. Familiar, wajah keempat orang itu baginya. Sung Kyu memerintahkan sopirnya untuk jalan.
            “Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?” tanya Eun Soo menyapa pelanggan.
            “Paket 2,” jawabnya.
            “Oh! Tuan!”
            “Santailah. Bisa kita bicara?”
            Eun Soo membawakan pesanan Sung Kyu ke mejanya.
            “Anjo.”
            Eun Soo pun duduk. Sung Kyu mengesap cola yang dia pesan. Sung Kyu menyilangkan kakinya dengan santai. Eun Soo masih saja kaku bak dia berada di rumah.
            “Santai saja,” awalnya. “Apa kau bisa bela diri Eun Soo?”
            Eun Soo agak kaget. “Ah.. Nde. Memangnya kenapa tuan?”
            “Aniyo. Aku hanya menebak. Olahraga apa? Taekwondo? Karate? Kung Fu?”
            “Taekwondo.”
            “Santai saja, aku tidak akan memakanmu,” katanya tertawa. Sung Kyu lalu memakan makan siangnya dengan lahap.
            Eun Soo memohon diri untuk segera kembali pada tempatnya. Eun Soo dengan segera melayani pelanggan yang mulai berdatangan untuk makan siang. Sesekali dia mengintip kepada tuan muda Sung kyu. Eun Soo takut bila identitasnya terbongkar. Eun Soo mestinya lebih waspada lagi.
            Usai makan, Sung Kyu langsung kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaanya. Pikiran Sung Kyu masih terusik dengan kejadian tadi. Dia merasa aneh bila empat lelaki yang familiar dan terlihat berandal itu keluar dari gang sepit dan gelap selang beberapa saat dengan Eun Soo. Aneh bila gadis baik-baik seperti Eun Soo berhubungan dengan mereka, pikirnya.
            “Siapa dia?” tanya Yoo Ra berusaha mengganggu Eun Soo.
            “Majikan ibuku.”
            Yoo Ra menyikut Eun Soo. Eun Soo hanya tertawa.
            Sementara dilain tempat Myungsoo masih berada di kantor untuk meeting. Meeting yang berlangsung cukup lama. Tanggung, bila diakhiri. Namun nampaknya perut Myungsoo tidak memberi toleransi padanya.
            “Kalau begitu, rapat kali ini sampai disini. Pembahasan menganai proyek ini akan dilanjutkan pada esok hari, pada jam yang sama. Gamsahamnida.”
            Myungsoo senang. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan keluar. Myungsoo menguap. Dia melihat arlojinya. Sudah waktunya makan siang. Myungsoo memegang perutnya yang mulai mengaum.
            Myungsoo menelpon restoran cepat saji untuk pesan antar makanan. Setelah itu, Myungsoo naik ke lantai atas dimana ruang kerjanya berada. Hanya beberapa orang anggota seksinya saja yang makan dikantor. Myngsoo bekerja disalah satu divisi dari perusahaan sebagai direktur divisi tersebut.
Myungsoo masuk ke ruangannya dan duduk dimejanya. Ah, membosankan sekali bila seperti ini. Kantor sepi, dan hanya dia seorang yang berada dala ruangan khusunya yang disekat dengan kaca ini.
Myungsoo meraih ponsel. Myungsoo main game sembari menunggu makananya. Iseng. Tok, tok, tok. Pintu ruangan Myungsoo diketuk.
“Masuk!” kata Myungsoo yang masih saja sibuk dengan ponselnya.
Myungsoo sekarang sedang mengirim pesan kepada seseorang—MESSAGE SEND. Titit, ponsel seseorang berbunyi sekian detik setelah Myungsoo mengirim pesan. Bunyinya berasal dari ruangan Myungsoo. Myungsoo mengalihkan pandangannya dari ponselnya menuju asal suara tersebut: tepat didepannya.
“Oh, Neo!” Myungsoo kaget saat ia mengetahui ponsel siapa yang berbunyi tadi.
Seseorang didepannya itu sedang berusaha mengecek ponselnya kaget karena Myungsoo. Seseorang itu kaget ketika dia tahu kalau dia sedang bertemu Myungsoo. “Tuan muda…”
“Ternyata kau bekerja dia restoran itu,” kata Myungsoo. Orang yang dihadapannya adalah Eun Soo.
Eun Soo menaruh pesanan Myungsoo di mejanya. “Selamat menikmati,” katanya. “Kalau begitu, saya permisi dulu,” Eun Soo membungkuk hormat pada Myungsoo.
“Tunggu-tunggu.”
“Ada apa?”
“Jangan dulu pergi. Aku tidak suka makan sendiri, aku merasa kesepian. Temani aku sebentar saja, sampai aku menghabiskan makananku.”
“Tapi saya harus kembali bekerja.”
“Ini,” Myungsoo menyerahkan sejumlah uang kepada Eun Soo.
“Untuk apa?”
“Kau mau pergi tanpa bayar?”
Eun Soo malu. Dia lalu mebungkuk hormat sekali lagi lalu pergi. Myungsoo tersenyum kecil. Eun Soo berjalan keluar dari kantor Myungsoo yang besar itu.
Didalam mobil, dalam perjalanan menuju kantor, tuan muda Sung Kyu masih sibuk dengan pemikirannya tentang kejadian tadi. Siapa sebenarnya ke empat pria itu? Kenapa terlihat begitu familiar?
Sung Kyu tersadar, kalau dia kenal mereka. Dia pernah melihat mereka saat membereskan masalah tentang proyek di gangnam pada malam hari. Mereka gangster yang memerasnya waktu itu.
Sung Kyu semakin bingung. Eun Soo dan keempat pria itu? Babak belur? Ada siapa disana? Apa Eun Soo melawan mereka semua sendiri? Mungkin saja karena dia bisa beladiri. Tapi satu lawan empat bagi wanita itu terlalu banyak.  Sung Kyu penasaran.
            “Tuan, sudah sampai.”
            Sung Kyu segera turun dari mobil. Pada saat yang bersamaan, Eun Soo keluar dari kantor. Sung Kyu melihat Eun Soo.
            “O, Eun Soo-ssi!” panggilnya.
            Eun Soo menoleh. Sung Kyu menghampiri Eun Soo. Eun Soo memberikan hormat pada Sung Kyu. Sung Kyu tersenyum pada Eun Soo lalu berkata, “apakah aku punya waktu malam ini?”

            (To Be Continued)


--------------------------------------------------------
Gimana? Maaf lama, karena PR yang kejam, aku jadi gini (?) Semoga masih penasaran sama cheapter selanjutnya yaa. JANGAN LUPA KOMEN YAAAA T__T Kalo gada yang komen rasanya kea gada yang baca. 

1 komentar:

  1. Waah, chapter 2 ini isinya ekstra yaaa :D wkwk. Bagus kok. Makin penasaran sama chapter selanjutnya. Semangat dongsaeng ('o')9

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...